. PENGARUH PERLUASAN KEKUASAAN KOLONIAL, PENDIDIKAN BARAT DAN ISLAM TERHADAP MUNCULNYA NASIONALISME INDONESIA
Kata Kunci
• Politik Etis • Pergerakan nasional • Identitas kebangsaan • Golongan
terpelajar • Manifesto politik Indonesia • Nasionalisme • Konggres
pemuda
1. Pengaruh Perluasan Kekuasaan Kolonial
Kebijakan pemerintah kolonial Barat terhadap wilayah Indonesia, termasuk
eksploitasi yang telah dilakukannya, dari kerja wajib, sewa tanah,
tanam paksa, dan politik pintu terbuka semuanya selalu merugikan rakyat
Indonesia dan sebaliknya selalu menguntungkan pemerintah kolonial.
Ketidakadilan inilah yang kemudian mendapat reaksi keras terutama dari
kalangan liberal.
Setelah golongan liberal mendapat kemenangan politik di Belanda, maka
muncullah perhatian untuk memajukan kemakmuran di tanah jajahan. Cara
yang ditempuh antara lain mendesak pemerintah Belanda untuk meningkatkan
kehidupan wilayah jajahan dengan pembangunan di tiga bidang yaitu
irigasi, pendidikan, dan perpindahan penduduk.
Walaupun ada perubahan dari tanam paksa ke ekonomi liberal, tetapi
praktiknya bagi rakyat sama saja. Karena perubahan dari perusahaan
negara ke perusahaan swasta tidak berbeda. Kedua-duanya sama
mengeksploitasi Indonesia untuk keuntungan yang sebesar-besarnya.
Perbedaannya hanya terletak bahwa kini
Indonesia terbuka bagi penanaman modal asing, meskipun modal Belanda
lebih diutamakan. Akibatnya terjadi internasionalisasi perdagangan di
Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar di bidang perkebunan dan
pertambangan dengan modal Belanda, Inggris, Amerika, Belgia, Cina, dan
Jepang muncul di Indonesia.
Diharapkan dengan adanya penanaman modal asing ini keinginan untuk
memasukkan kekuasaan politik oleh negara-negara lain di Indonesia dapat
dihindarkan. Namun kenyataannya ada juga pengaruh perluasan kekuasaan
colonial terhadap munculnya Nasionalisme Indonesia.
Dalam politik liberal ditekankan adanya perlindungan terhadap rakyat.
Tetapi kenyataannya ada kecenderungan untuk menghambat kemajuan rakyat.
Sebab meningkatkan taraf hidup rakyat berarti menghendaki modal. Padahal
keuntungan perusahaan terletak karena tersedianya tenaga buruh yang
murah. Timbul kontradiksi yang rumit penyelesaiannya dalam hubungan
politik dan ekonomi kolonial. Akibatnya rakyat tetap menderita dan hidup
sengsara.
Melihat kepincangan tersebut, timbul di negeri Belanda suatu pemikiran
untuk menghapuskan politik exploitasi, dan meningkatkan kesejahteraan
rakyat Indonesia. Partai-partai, baik partai agama maupun sosialis,
mengecam pemerintah yang selama ini hanya mengeruk keuntungan saja tanpa
memperhatikan kesejahteraan rakyat. Mereka menuntut adanya suatu
perubahan dalam sistem pemerintahan di Indonesia, suatu perubahan yang
dapat membawa peningkatan budaya rakyat pribumi.
Selaras dengan perkembangan ekonomi, pemerintah tidak dapat mengelak
lagi untuk mengadakan pembangunan. Karena kemajuan pesat
perusahaan-perusahaan juga berkaitan dengan kebutuhan akan sarana-sarana
lainnya. Seperti komunikasi yang lancar, kesehatan, pendidikan, dan
sebagainya.
Di bidang administrasi pemerintah, pemerintah mengadakan beberapa
perubahan. Seperti memperjelas kekuasaan bupati, menciptakan
undang-undang desentralisasi tahun 1903, dan pembentukan dewan-dewan
kota dan daerah.
Departemen-departemen baru, seperti Departemen Pertanian (1904),
Departemen Perusahaan-Perusahaan Negara (1907), dibentuk. Pada permulaan
abad ke-20 dibentuk dinas-dinas seperti Dinas Pertanian, Perikanan, dan
Kerajinan. Sedangkan Dinas Kesehatan dan Pengajaran diperluas.
Di bidang komunikasi, pemerintah melaksanakan pembangunan jalan raya dan
jaringan kereta api di Jawa dan Sumatera. Pelabuhan baru dibangun
seperti Tanjung Priuk, Tanjung Perak, Teluk Bayur dan Belawan. Juga
hubungan telegram dengan Eropa diadakan. Lancarnya komunikasi tidak
hanya menguntungkan lalu lintas perdagangan tetapi juga menguntungkan
bagi penduduk dan pemerintah umumnya.
Untuk meningkatkan kesehatan rakyat, dilakukan pemberantasan penyakit
menular, seperti pes, kolera, malaria, dan sebagainya. Untuk
meningkatkan pertanian, pemerintah membangun irigasi yang luas, seperti
irigasi Brantas di Jawa Timur. Untuk kepentingan petani dan rakyat kecil
didirikan bank-bank kredit, pertanian, bank padi, bank simpanan dan
rumah-rumah gadai. Koperasi juga didirikan tetapi kurang mendapat
kemajuan. Meskipun usaha ini tidak berhasil mendorong produksi pribumi,
tetapi telah berhasil mendidik rakyat tentang penggunaan uang.
Untuk mengurangi kepadatan penduduk suatu daerah di Jawa, pemerintah
melaksanakan transmigrasi. Daerah sasaran utama ialah Sumatera Timur
untuk buruh perkebunan dan Lampung. Meskipun pemerintah telah dapat
melaksanakan pembangunan di berbagai bidang akan tetapi tujuan utamanya
adalah untuk kepentingan pemerintah colonial dan kaum kapitalis (pemilik
modal), hasilnya tidak begitu terasa bagi rakyat. Bahkan kehidupan
rakyat semakin tergantung kepada pengusaha dan pemilik modal sebagai
penyewa tanah dan pembeli tenaganya.
Tingkat kehidupan ekonomi rakyat masih tetap rendah. Perbedaan di bidang
ekonomi, sosial, dan politik antara golongan Barat/asing dengan
golongan pribumi sangat besar. Bahkan diskriminasi berdasarkan warna
kulit semakin kuat.
Penderitaan dan keterbelakangan rakyat yang berkepanjangan akibat
penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial menimbulkan rasa
kebencian yang mendalam. Di tambah adanya diskriminasi terhadap warna
kulit untuk golongan Bumi Putera maka kebencian dan rasa tidak puas
semakin memuncak, yang akhirnya timbul keberanian untuk bangkit dan
menentang kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial dan ada sebagian
rakyat yang mengadakan perlawanan untuk membela martabat rakyat dan
bangsanya. Itulah semangat nasionalisme mulai muncul pada diri rakyat
Indonesia.
2. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Barat
Kebutuhan akan tenaga-tenaga terdidik dan ahli, mendorong pemerintah
untuk mendirikan sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah pamongpraja.
Juga didirikan beberapa perguruan tinggi seperti Perguruan Tinggi
Kedokteran, Perguruan Tinggi Teknik, Perguruan Tinggi Hukum, dan
Perguruan Tinggi Pertanian. Bidang pendidikan ini tidak hanya
dilaksanakan oleh pemerintah tetapi juga oleh swasta, yaitu swasta asing
missie dan zending, dan swasta pribumi.
Dari hasil pendidikan telah menumbuhkan suatu golongan cerdik-pandai
dikalangan rakyat Indonesia. Golongan ini sadar akan dirinya dan
keadaan yang serba terbelakang dari masyarakatnya. Mereka mulai bangkit
menjadi suatu kekuatan sosial baru, yang berjuang untuk perbaikan nasib
bagi rakyat Indonesia. Tidak hanya kesejahteraan yang mereka tuntut
tetapi juga kemerdekaan nasional. Gerakan yang mereka lakukan disebut
Pergerakan Nasional. Menghadapi keadaan baru di kalangan rakyat
tersebut, di pihak kolonialis terdapat perbedaan pendapat.
Di satu pihak ada pendapat bahwa nasionalisme dapat dihadapi dengan
memperluas lembaga-lembaga pendidikan, dan alat-alat pemerintahan dalam
bidang sosial. Kepada pemerintah dianjurkan agar menilai situasi
Indonesia sesuai dengan keadaannya. Di pihak lain para penguasa,
terutama gubernur jenderal sangat mengkhawatirkan akan perkembangan baru
ini, karena dipandang dapat mengancam kelangsungan hidup kolonialisme
Belanda. Keadaan serupa juga terdapat di kalangan Belanda yang
konservatif, baik pegawai pemerintah maupun pengusaha-pengusaha. Untuk
itu munculnya Nasionalisme Indonesia selalu diawasi oleh pemerintah
kolonial Belanda.
Didirikannya sekolah-sekolah pada zaman kolonial sudah tentu tujuannya
yang utama adalah untuk kepentingan pemerintah kolonial. Jenis, tingkat,
dan mutu sekolah tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan pada waktu
itu. Terutama untuk memperoleh tenaga-tenaga bawahan (kasar) yang
terdidik. Karena itu menjelang akhir abad ke-19 sekolah yang disebut
”modern” terbatas sekali. Mula-mula diperkenalkan kepada rakyat pribumi
dua macam sekolah dasar, yaitu sebagai berikut.
a. Sekolah Kelas Dua, ialah sekolah untuk mendidik calon-calon pegawai rendah; muridnya berasal dari golongan masyarakat biasa.
b. Sekolah Kelas Satu, khusus untuk anak-anak dari golongan masyarakat
menengah. Untuk anak-anak Eropa dan orang asing lainnya didirikan
sekolah yang hanya khusus untuk mereka.
Sejak awal abad ke-20 diperkenalkan sistem sekolah desa. Penyelenggaraan
sekolah ini tergantung kepada kemampuan masyarakat setempat. Pemerintah
hanya memberikan subsidi dan pengawasan. Lama belajar adalah tiga
tahun. Mata pelajaran yang diajarkan ialah membaca, menulis, dan
berhitung. Jadi sangat terbatas sekali. Tetapi murid-murid yang
terpandai dan terpilih dapat melanjutkan ke sekolah sambungan. Sekolah
setingkat SD untuk anak keturunan Eropa adalah ELS (Europese Lagere
School). Ada juga sekolah guru (Kweek School), dan sekolah menengah
dagang modern (MMHS). Untuk anak-anak golongan atas didirikan sekolah
HIS (=Sekolah Dasar). Pada sekolah ini bahasa Belanda juga menjadi
bahasa pengantar. Setelah lulus mereka dapat melanjutkan ke MULO(SMP)
dan seterusnya ke AMS (SMA).
Akan tetapi tidak semua murid yang lulus dapat melanjutkan pelajarannya.
Ada beberapa syarat tertentu yang harus dipenuhi. Antara lain harus
mengikuti testing, dan ditinjau kedudukan dan penghasilan orang tuanya.
Untuk melanjutkan ke perguruan tinggi pada mulanya tentu harus ke Eropa
(Negeri Belanda). Sejak tahun 1920 keadaan itu agak berkurang karena
beberapa perguruan tinggi telah ada di Indonesia. Seperti sekolah
kedokteran (STOVIA), sekolah hokum (Rechts Hoge School), sekolah teknik
(THS).
Di samping sekolah umum juga ada sekolah kejuruan. Seperti sekolah
pamongpraja, sekolah guru, sekolah teknik, sekolah dagang, dan
sebagainya. Sudah tentu di samping adanya sekolah pemerintah juga ada
sekolah swasta. Baik swasta asing maupun swasta pribumi. Sekolah yang
diusahakan swasta asing, yaitu missi dan zending, di beberapa daerah
bahkan mengalahkan peranan sekolah pemerintah. Seperti di daerah bahkan
mengalahkan peranan sekolah pemerintah. Seperti di daerah Sulawesi Utara
dan Tapanuli Utara.
Sekolah swasta pribumi biasanya didirikan oleh organisasi partai atau
organisasi keagamaan. Seperti sekolah-sekolah yang didirikan Sarekat
Islam dan Muhammadiyah. Juga terkenal sekolah-sekolah Taman Siswa,
Ksatrian Institut, Perguruan Rakyat dan INS Kayutanam. Penyebaran
pendidikan melalui sekolah, walaupun tidak merata, telah terjadi di
seluruh Indonesia. Daerah di mana kekuasaan pemerintah telah berakar
sampai ke desa-desa, penyebarannya sudah luas sekali. Umumnya antara
tahun 1910 – 1930 merupakan masa subur bagi perluasan pendidikan.
Penyebaran pendidikan yang bercorak Barat, berbagai macam ilmu
diajarkan, memperluas pula dengan cepat lapangan kerja baru. Seseorang
akan menjadi ahli hanya pada ilmu yang dipelajarinya. Ia akan bekerja
sesuai dengan ilmu yang dimilikinya. Di samping itu pelajar-pelajar dan
mahasiswa yang berasal dari lingkungan dan adat-istiadat yang berbeda,
kini memiliki pola berpikir yang sama.
Dengan demikian komunikasi antara mereka menjadi lebih mudah. Hal ini
sangat menguntungkan dalam Pergerakan Nasional. Dan dengan ilmu yang
mereka terima, mereka menjadi lebih dapat mengenal lingkungan
masing-masing. Inilah yang kemudian mendorong munculnya Nasionalisme
Indonesia.
3. Pengaruh Perkembangan Pendidikan Islam
Pertumbuhan corak pendidikan modern yang diusahakan oleh pemerintah,
juga mempengaruhi tumbuhnya sekolah swasta. Beberapa perguruan swasta
seperti Taman Siswa, Ksatrian Institut, INS Kayutanam dan Perguruan
Rakyat berusaha juga mengembangkan budaya nasional untuk mengimbangi
pengaruh budaya Barat.
Di samping itu sekolah-sekolah agama mulai pula memperbaharui sistem dan
metode pengajaran mereka. Berbagai jenis pengajaran umum mulai
diperkenalkan, terutama sekolah-sekolah yang diusahakan oleh
pembaharu-pembaharu Islam. Di beberapa daerah, sekolah jenis ini
berkembang dengan pesat, seperti sekolah-sekolah Islam di Sumatera Barat
dan sekolah yang diusahakan oleh Muhammadiyah maupun Sarekat Islam.
Sekolah yang didirikan oleh Sarekat Islam pertama kali berdiri di
Semarang pada tanggal 21 Juni 1921 dengan kepala sekolah bernama Tan
Malaka. Tan Malaka adalah lulusan sekolah guru untuk Bumi Putera di
Bukit Tinggi. Melalui sekolah yang dipimpinnya itu, ia ingin mencapai
tiga tujuan yaitu sebagai berikut:
1. Memberi bekal yang cukup, agar anak-anak didik dapat mencari
penghidupannya dalam dunia kapitalis (dengan memberikan pelajaran
berhitung, menulis, membaca, sejarah, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu,
Belanda, dan lain-lain).
2. Menunjukkan kewajibannya terhadap rakyat. Supaya anak-anak lulusan
sekolah ini di kemudian hari tidak melupakan rakyat justru harus
menaikkan derajat rakyat.
3. Memberikan hak kepada murid-murid untuk bersuka cita melalui kehidupan perkumpulan-perkumpulan.
Perkumpulan anak-anak merupakan suatu sekolah tersendiri, yang besar
artinya untuk mendidik rasa dan pikiran merdeka, mendidik untuk
memikirkan dan menjalankan persaingan dalam pergaulan hidup, mendidik
untuk lancar dan berani berbicara. Ikatan politik sesama siswa Sarekat
Islam perlu dibina dan dikembangkan dengan tujuan bahwa mereka kelak
akan hidup berdampingan dengan rakyat dalam perjuangan ekonomi dan
politik. Dalam waktu singkat, sekolah Sarekat Islam ini sudah menjadi 12
cabang dengan jumlah siswa + 3.000 orang. Kemajuan pesat sekolah SI
antara lain disebabkan karena pemerintah sendiri belum mampu untuk
mengadakan sekolah yang mencukupi untuk penduduk Bumi Putera.
Pendidikan Islam tidak hanya melalui jenis sekolah agama, tetapi juga
melalui pesantren, madrasah dan surau. Pesantren dan madrasah yang
digerakkan oleh kaum reformis Islam merupakan jenis sekolah yang
coraknya bertolak belakan g dengan sekolah yang didirikan oleh
pemerintah, baik dari sudut isi pengajaran, cara pendidikan maupun dari
kemungkinan yang bisa diharapkan oleh seorang siswa. Sekolah yang
berusaha untuk memberi dasar ideologi antara lain Taman Siswa, INS
Kayutanam dan Muhammadiyah. Terutama di sekolah Muhammadiyah, siswa
dididik selain pelajaran agama, juga pelajaran umum.
Akibat lain dari meluasnya pengajaran ini ialah berkembangnya berbagai
ideologi. Karena pelajar berasal dari berbagai daerah dan lingkungan
budaya serta tingkat sosial dan ekonomi yang berbeda, cara mereka
menilai lingkungan berbeda-beda pula. Karena rumusan citacita mereka
berbeda-beda pula. Sebagian dari mereka mengkaitkan diri dengan
kebangkitan Islam.
Dari hasil pendidikan Islam, akan muncul pula cendikiawan Islam, ulama
dan kyai yang mempelopori Pergerakan Nasional. Mereka mendorong
masyarakat untuk mencintai tanah air dan agamanya. Pergerakan tersebut
tidak hanya bersifat kedaerahan tetapi terus meluas ke Nasional.
Akhirnya munculah jiwa Nasionalisme Indonesia.
B. Peranan Golongan Terpelajar, Profesional dan Pers dalam Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasional Indonesia
Salah satu realisasi dari pelaksanaan politik etis adalah didirikannya
sekolahsekolah di Indonesia. Walaupun sebenarnya sekolah-sekolah
tersebut untuk kepentingan pemerintah Belanda. Namun ada juga rakyat
Indonesia yang mengenyam pendidikan. Golongan inilah yang nanti sangat
berperan dalam menumbuhkembangkan kesadaran Nasional Indonesia. Golongan
inilah yang
kemudian disebut golongan terpelajar.
1. Timbulnya Golongan Terpelajar dan Profesional
Dalam masyarakat secara umum terdapat tiga lapisan berdasarkan status
sosialnya, yaitu sebagai berikut.
a. Lapisan bawah, yang biasanya disebut rakyat jelata. Yaitu terdiri dari para buruh, tani biasa, nelayan dan sebagainya.
b. Lapisan menengah yaitu terdiri dari para pedagang, petani-petani kaya, dan para pegawai yang terdiri dari berbagai profesi.
c. Lapisan atas yaitu biasa disebut golongan elite. Golongan elite ialah orang-orang yang sangat dihormati di dalam masyarakat.
Biasanya mereka adalah keturunan bangsawan atau kerabat raja dan
pemukapemuka agama, seperti ulama dan kyai yang sangat berpengaruh di
dalam masyarakat. Golongan ini pada umumnya sudah banyak mengenyam
pendidikan.
Sebelum abad ke-20, kesadaran Nasional Indonesia belum berkembang
mantap. Golongan elite dan golongan terpelajar terdapat di dalam
masyarakat masih bersifat kedaerahan. Mereka hanya terpandang dan
dihormati terbatas dalam lingkungan daerah masih-masing. Kekuasaan
pemerintah kolonial Belanda yang telah menguasai daerah-daerah di
Indonesia ternyata tidak merubah kedudukan golongan elite tersebut.
Hal ini disebabkan karena tenaga dan kekuasaan mereka tetap
dipertahankan oleh pemerintah kolonial, untuk membantu kelancaran
administrasi pemerintah kolonial. Selain itu kebijakan ini untuk
menghemat biaya pemerintah dan murahnya tenaga bangsa Indonesia.
Politik etis yang dijalankan di Indonesia pada akhir abad ke-19 mulai
mengubah keadaan yang tradisional tersebut. Perluasan pengajaran dan
pengaruh penerobosan ekonomi uang telah memungkinkan terjadinya
pergeseran-pergeseran dan perubahan status sosial seseorang. Kota-kota
besar yang menjadi pusat pengajaran/pendidikan, perdagangan, dan
industri merupakan tempat bertemunya pelajar-pelajar dan pemuda-pemuda
dari berbagai daerah yang berbeda-beda adat-istiadat dan kedudukan
sosial mereka. Ilmu yang sama-sama mereka terima dari bangku sekolah
memberikan kepada mereka suatu keseragaman berpikir mengenai sesuatu.
Hal ini memudahkan pendekatan-pendekatan sesama mereka. Khususnya dalam
diskusi-diksusi yang dilakukan. Semua aspek yang terjadi di dalam
masyarakat, mereka bicarakan dan perbandingkan antara satu daerah dengan
daerah lainnya sehingga diperoleh suatu kesimpulan bersama. Kesimpulan
mereka bahwa tanpa pendidikan, kemajuan bangsa Indonesia akan lambat.
Dalam bidang politik dapat dilihat tekad organisasi-organisasi daerah
dan partai-partai politik untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi
kelihatan secara lambat laun bahwa jangkauan pemikiran mereka sudah
keluar dari batas daerah masingmasing.
Muncullah waktu itu beberapa tokoh pemimpin nasionalis yang berpengaruh
di kalangan rakyat, seperti dr. Sutomo, HOS. Tjokroaminoto, dr. Tjipto
Mangunkusumo, H. Agus Salim dan Abdul Moeis pada masa-masa awal
Pergerakan Nasional; Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Mr.
Muh. Yamin dan sebagainya pada waktu berikutnya.
2. Peranan Golongan Terpelajar dan Profesionalisme dalam Perkembangan Kesadaran Nasional Indonesia
Dalam menumbuhkan golongan terpelajar ini pengaruh sistim pendidikan
Barat, terutama di perguruan tinggi, sangat menonjol. Dengan ilmu,
mereka mencari ide dan pemikiran sendiri untuk kemajuan masyarakat.
Keahlian seseorang dalam suatu ilmu mendesak keturunan sebagai ukuran
bagi penentuan status seseorang. Kaum terpelajar yang tumbuh menjadi
elite nasional sadar bahwa belenggu tradisional yang mengikat
daerah-daerah, dan juga diskriminasi rasial yang dijalankan pemerintah
kolonial, sangat menghambat bagi cita-cita nasionalisme Indonesia, yaitu
menggalang persatuan nasional dan mencapai kemerdekaan nasional.
Elite nasional yang telah mempunyai dasar baru dalam memandang
masyarakat sekitarnya, yaitu nasionalisme Indonesia, berusaha merubah
pandangan yang bertolak dari lingkungan daerahnya masing-masing. Mereka
yakin bahwa cita-cita kemerdekaan Indonesia hanya akan berhasil apabila
nasionalisme telah tumbuh dengan subur sehingga merupakan kekuatan yang
merata yang mengikat semua suku di Indonesia dalam ikatan persatuan
nasional yang kokoh. Mereka juga sadar bahwa untuk mempercepat proses
tercapainya hal tersebut perlu diadakan organisasi terhadap rakyat
dengan membentuk partai dan perserikatan massa yang mempunyai
keanggotaan luas.
Ada beberapa faktor yang memudahkan proses pertumbuhan nasionalisme itu,
yakni : pendidikan, bahasa dan media komunikasi massa (surat kabar,
majalah, buku, dan brosur).
Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional sadar, bahwa langkah pertama untuk
mengembangkan nasionalisme adalah melalui pendidikan. Karena itu
partai-partai politik maupun tokoh nasionalis secara perorangan
mendirikan sekolah-sekolah (dengan berbagai macam dan tingkat) yang
tujuannya di samping untuk mendidik kader-kader partai juga mendidik
murid-muridnya dalam iklim nasionalisme. Adalah menarik bahwa kaum ibu
Indonesia yang dipelopori oleh R.A. Kartini juga telah membantu
pertumbuhan nasionalisme di kalangan kaum wanita. Kongres Wanita Pertama
tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta memperkuat peranan wanita dalam
Pergerakan Nasional.
Puncak peranan elite nasional dalam menumbuhkan nasionalisme tercapai
dengan diucapkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam
Kongres Pemuda di Jakarta. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa :
Indonesia. Di sini dengan tegas telah dipatrikan arti nasionalisme
Indonesia untuk wilayah dari Sabang sampai Merauke. Semenjak itu bahasa
Melayu disebut bahasa Indonesia, yang penggunaannya kemudian semakin
luas. Lagu Indonesia Raya karangan W.R. Supratman yang diperdengarkan
pada Kongres Pemuda tahun 1928 itu makin memantapkan rasa nasionalisme
itu.
Peranan para profesional yang terdiri dari para dokter, ahli hukum,
insinyur, seniman, ahli pertanian, ahli kehewanan, para pendidik, dengan
kesadarannya menulis di dalam pers Indonesia dan organisasi pergerakan.
Dengan demikian, mereka telah ikut serta dalam pendidikan nasional bagi
rakyat Indonesia.
3. Peranan Pers (Media Komunikasi) dalam Perkembangan Kesadaran Nasional Indonesia
Pers atau media komunikasi memegang peranan sangat penting dalam
menyadarkan rakyat Indonesia dalam menempuh perjuangan. Di bidang media
komunikasi massa puluhan surat kabar dan majalah yang diterbitkan oleh
orang Indonesia pada waktu itu. Menyerukan agar rakyat Indonesia bangkit
dan bersatu-padu untuk menghadapi imperialisme, kolonialisme, dan
kapitalisme Belanda.
Kemiskinan, kesengsaraan dan keterbelakangan sebagai rakyat terjajah
akan dapat diatasi apabila rakyat di tiap daerah bersatu untuk berjuang
mencapai kemerdekaan. Pers memang merupakan alat komunikasi massa yang
sangat tepat untuk menggerakkan semangat perjuangan karena langsung
berhubungan dengan masyarakat luas. Meskipun pers masih terbatas pada
pers cetak yang jumlahnya masih terlalu sedikit, ternyata peranannya
sangat besar. Khususnya dalam membangkitkan rasa kebangsaan dan
persatuan. Melalui pers perkembangan setiap pergerakan dapat segera
diketahui masyarakat, baik masyarakat pergerakan maupun masyarakat pada
umumnya. Sejalan dengan perkembangan pergerakan, berkembang pula
kesadaran masyarakat akan arti pers dalam perjuangan mencapai
kemerdekaan.
Pers yang ada pada waktu itu, pada umumnya berupa harian surat kabar dan
majalah. Beberapa surat kabar yang terkenal waktu itu ialah De Expres,
Oetoesan Hindia, dan lain-lain. Majalah yang banyak pengaruhnya adalah
Indonesia Merdeka yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia di negeri
Belanda. Tidak heran bila banyak dari surat kabar dan majalah itu
dibrangus oleh pemerintah kolonial karena dipandang sangat berbahaya.
Contoh surat kabar yang terbit, yang sangat mempengaruhi kesadaran rakyat Indonesia, antara lain adalah sebagai berikut.
a) Bintang Soerabaja (1861) di Surabaya
Surat kabar ini merupakan surat kabar berbahasa Melayu yang tertua di
Indonesia. Isinya selalu menentang pemerintah dan berpengaruh di
kalangan orang-orang Cina dari partai modern di Jawa Timur. Pemimpin
redaksi surat kabar ini adalah Courant.
b) Medan Prijaji (1907) di Bandung
Surat kabar ini merupakan pelopor pers nasional pemimpin redaksinya
adalah RM. Tirtoadisuryo. Ia adalah orang pertama Indonesia yang
bergerak di bidang penerbitan dan percetakan. Ia juga dianggap sebagai
wartawan pertama di Indonesia yang menggunakan surat kabar sebagai alat
untuk membentuk pendapat umum.
Karena karangan-karangannya yang tajam terhadap penguasa, maka
Tirtoadisuryo pernah dibuang ke Lampung. Tetapi dari tempat pembuangan
itupun ia masih terus menulis karangan-karangan yang bercorak membela
nasib rakyat kecil serta melawan penindasan dari pemerintah kolonial.
c) De Expres (1912) di Bandung
Dalam surat kabar De Expres terdapat karangan-karangan Douwes Dekker
dengan nama samaran Dr. Setyabudi banyak menulis dalam kaitannya dengan
kesadaran Nasional. Walaupun surat kabar ini terbit dalam bahasa
Belanda, namun isinya berhubungan dengan masa depan Hindia Belanda.
Pokok-pokok pikiran yangkemudian merupakan landasan kesatuan dan
perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Surat kabar De Expres diterbitkan oleh Indische Partij, yang dipimpin
oleh Tiga Serangkai. Karena banyak mengkritik pemerintah akhirnya para
tokohnya ditangkap dan diasingkan.
d) Oetoesan Hindia (1913) di Surabaya
Oetoesan Hindia adalah surat kabar yang dikelola oleh Sarekat Islam
dengan pimpinan HOS Tjokroaminoto, Sosrobroto dan Tirtodanudjo.
Karangan-karangannya sangat kritis yang isinya mencerminkan dunia
pergerakan, politik, ekonomi, dan perburuhan.
e) Saroetomo (1912) di Surakarta
Saroetomo adalah surat kabar yang dimiliki oleh Sarikat Islam. Dengan
munculnya penulis Mas Marco Dikromo tulisannya semakin banyak dibaca.
Mas Marco mengomentari cara kerja komisi untuk menyelidiki sebab-sebab
kemunduran dan kemakmuran rakyat Bumi Putera.
f) Hindia Putera (1916) di Belanda
Hindia Putera adalah majalah berbahasa Belanda yang diterbitkan oleh
tokoh Tiga Serangkai yang dibuang ke Nederland, yaitu R.M. Suwardi
Suryaningrat lewat majalah ini, mereka berhasil mempertahankan arah
perjuangan mereka. Apalagi setelah Hindia Putera juga terbit dalam
bahasa Melayu (Indonesia) sehingga dapat dibaca oleh Bumi Putera.
g) Indonesia Merdeka (1924) di Belanda
Majalah ini merupakan kelanjutan dari Hindia Putera. Isi dan corak karangankarangan
majalah ini merupakan aksi untuk mencapai tujuan Perhimpunan Indonesia
(PI), terutama untuk memperkuat cita-cita kesatuan bangsa Indonesia.
C. Perkembangan Pergerakan Nasional yang Bersifat Etnik, Kedaerahan, Keagamaan, dan Terbentuknya Nasionalisme Indonesia
Dilaksanakan politik etis membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia
yaitu lahirnya golongan cendekiawan atau terpelajar. Golongan inilah
yang nantinya mulai sadar akan nasib bangsanya yang terbelakang di
segala bidang akibat penjajahan. Oleh karena itu, mereka bangkit menjadi
penggerak perjuangan bangsa Indonesia dengan membentuk organisasi
pergerakan nasional.
Pergerakan Nasional Indonesia didorong oleh faktor dari dalam negeri dan factor dari luar negeri.
1. Faktor dari Dalam Negeri
Faktor-faktor dari dalam negeri yang mendorong munculnya pergerakan nasional di antaranya adalah:
a. Penderitaan Rakyat yang Berkepanjangan
Penjajahan yang pada hakekatnya merupakan penderitaan, karena potensi
bangsa terjajah dikuasai untuk kepentingan penjajah. Bangsa Indonesia
mengalami zaman penjajahan yang panjang dan menyengsarakan sejak
kedatangan Portugis, Inggris, dan Belanda. Kebencian rakyat muncul
karena adanya jurang pemisah yang lebar antara bangsa Barat dengan
rakyat Bhumiputra. Penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial
meliputi berbagai aspek kehidupan yang mengakibatkan penderitaan rakyat
sehingga memunculkan kesadaran nasional dan mulai memahami perlunya
menggalang persatuan. Atas prakarsa kaum terpelajar maka keinginan itu
menjadi kenyataan dalam bentuk pergerakan nasional. Mereka menyadari
hanya dengan persatuan dan kesatuan itulah akan terbentuk sesuatu
kekuatan yang besar untuk mencapai kemenangan.
b. Lahirnya Golongan Terpelajar
Suatu kenyataan bahwa para pelopor pergerakan nasional terdiri atas para
pelajar STOVIA (sekolah ”dokter Hindia”). Para lulusan dokter Hindia
ini sangat peka terhadap penderitaan rakyat karena tugas yang diemban
berupa pengabdian terhadap kondisi masyarakat. Dengan intelektualnya,
mereka memiliki gagasan untuk mengembangkan taktik perjuangan dengan
berorganisasi. Inilah peran penting kaum terpelajar yang hendaknya
menjadi pelopor di masyarakat.
c. Mengenang Kejayaan Masa Lampau yang Gemilang
Kejayaan masa lampau bangsa Indonesia pada zaman Sriwijaya dan Majapahit
dapat menggugah semangat nasionalisme golongan terpelajar sehingga
berupaya melepaskan diri dari penjajah Belanda.
2. Faktor dari Luar Negeri
Faktor-faktor dari luar negeri yang mendorong munculnya pergerakan nasional di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Kemenangan Jepang atas Rusia dalam tahun 1905.
b. Kebangkitan Nasional negara-negara tetangga seperti India, Philipina, Cina, dan Turki.
c. Masuknya paham-paham baru seperti nasionalisme dan demokrasi.
3. Masa Awal Perkembangan
Perkembangan pergerakan nasional di Indonesia, antara lain sebagai berikut.
a. Budi Utomo (BU)
Seorang dokter Jawa bernama dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 1906 dan
1907 meng-adakan perjalanan kampanye di kalangan priyayi di pulau Jawa.
Ia menyampaikan pendapat untuk memajukan bangsanya melalui pendidikan.
Pendidikan ini akan diusahakan sendiri tanpa bantuan pemerintah kolonial
dengan mendirikan Dana Pelajar atau Studiefonds, untuk membantu para
pelajar yang kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolah.
Dalam perjalanannya, pada akhir tahun 1907 dr. Wahidin Sudirohusodo
bertemu dengan Sutomo, mahasiswa STOVIA di Jakarta. Sutomo menyampaikan
gagasan dr. Wahidin Sudirohusodo kepada teman-temannya di STOVIA.
Mahasiswa-mahasiswa STOVIA yang sudah memiliki citacita meningkatkan
kedudukan dan martabat bangsa itu terdorong oleh kampanye yang dilakukan
dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pada hari Rabu tanggal 20 Mei 1908, Sutomo dan kawan-kawannya berkumpul
di ruang anatomi gedung STOVIA. Mereka sepakat mendirikan organisasi
Budi Utomo. Para mahasiswa yang tergabung dalam Budi Utomo ini adalah
Sutomo sebagai ketua, Moh. Sulaeman sebagai Wakil Ketua, Gondo Suwarno
sebagai Sekretaris I, Gunawan Mangunkusumo sebagai Sekretaris II, Angka
sebagai bendahara, Muhammad Saleh dan Suwarno sebagai komisaris. Juga
beberapa nama lain yakni Suwardi, Samsu, Suradji, Sudibyo, dan Gumbrek.
Dari bulan Mei sampai awal Oktober 1908, Budi Utomo merupakan organisasi
pelajar dengan intinya pelajar STOVIA. Tujuan organisasi ini dirumuskan
secara samarsamar, yaitu kemajuan bagi Hindia, di mana jangkauan
geraknya pada penduduk Jawa dan Madura. Dalam waktu singkat di beberapa
kota berdiri cabang-cabang Budi Utomo yakni Bogor, Bandung, Yogyakarta,
Magelang, Surabaya, dan Probolinggo.
Pada tanggal 3 – 5 Oktober 1908, Budi Utomo mengadakan kongres yang
pertama di Yogyakarta. Dalam kongres itu ditetapkan tujuan Budi Utomo
adalah kemajuan yang selaras (harmonis) buat negeri dan bangsa, terutama
dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik
dan industri, dan kebudayaan (kesenian dan ilmu). Sebagai ketua Pengurus
Besar yang pertama dipilih R.T.A. Tirtokusumo, bupati Karanganyar. Ia
menjabat sampai tahun 1911.
Kemudian jabatan ketua Budi Utomo berturut-turut adalah Pangeran Aryo
Notodirodjo (1911-1914), R.Ng. Wedyodipuro (Radjiman Wedyodiningrat)
tahun 1914-1915, kemudian R.M. Ario Suryo Suparto (1915). Setelah
kepengurusan Budi Utomo dipegang golongan tua maka para pelajar
menyingkir dari barisan depan.
Budi Utomo semakin lamban kegiatannya setelah keluarnya Cipto
Mangunkusumo dan Suryodiputro. Aktivitas Budi Utomo pada waktu itu
terbatas pada penerbitan Majalah Goeroe Desa. Sejak tahun 1912 ketika
Pangeran Notodirodjo menjabat ketua, Budi Utomo berusaha mengejar
ketinggalan tetapi tidak banyak hasilnya karena saat itu muncul
organisasi-organisasi lain seperti Sarekat Islam dan IndishcePartij.
Sejak pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 sampai 1919 terlihat
usaha-usaha Budi Utomo terjun ke bidang politik. Akan tetapi karena
tidak mendapat dukungan massa maka kedudukan secara politik kurang
begitu penting. Namun ada hal yang penting yakni bahwa Budi Utomo
merupakan organisasi social kebangsaan yang pertama berdiri di Indonesia
dan di situlah terdapat benih semangat nasional yang pertama. Oleh
karena itu tanggal kelahiran Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai
hari Kebangkitan Nasional.
b. Sarekat Islam (SI)
Pada tahun 1909, Raden Mas Tirtoadisuryo mendirikan perkumpulan dagang
di Jakarta dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI). H. Samanhudi seorang
pedagang batik dari Laweyan Solo merasa tertarik dengan organisasi
dagang ini. Akhirnya ia mendirikan Sarekat Dagang Islam di Solo pada
akhir tahun 1911. Tujuannya adalah untuk memajukan agama, dan untuk
memperkuat diri bagi golongan pedagang-pedagang Indonesia terhadap
pedagangpedagang Cina.
Pada waktu itu pedagang Cina memegang peranan penting dalam leveransir
bahan-bahan yang diperlukan oleh perusahaan batik. Dalam mendirikan
Sarekat Dagang Islam di Solo, H. Samanhudi mengajak pedagang-pedagang
batik terkenal di antaranya M.Asmodimejo, M. Kertotaruno, M.
Sumowerdoyo, dan H.M. Abdulrajak. Organisasi yang baru didirikan
tersebut diketuai oleh H. Samanhudi. Berdirinya Sarekat Islam selain
didorong oleh factor ekonomi juga dilandasi oleh faktor agama.
Pada tanggal 10 September 1912, Sarekat Dagang Islam diubah menjadi
Sarekat Islam. Hal ini dilakukan atas saran Haji Oemar Said
Tjokroaminoto, seorang pelajar Indonesia yang bekerja pada perusahaan
dagang di Surabaya. Alasan perubahan nama ini adalah agar perkumpulan
itu jangkauannya lebih luas tidak terbatas pada golongan pedagang saja.
Tujuan Sarekat Islam sesuai anggaran dasarnya adalah sebagai berikut.
1) Memajukan perdagangan.
2) Memberikan pertolongan kepada anggota-anggota yang mengalami kesulitan.
3) Memajukan kepentingan rokhani dan jasmani dari penduduk asli.
4) Memajukan kehidupan agama Islam.
Dalam waktu singkat Sarekat Islam berhasil mendapat anggota di kalangan
rakyat banyak sehingga meluas menjadi organisasi massa yang pertama di
Indonesia. Hal ini berbeda dengan Budi Utomo yang dalam praktiknya hanya
beranggotakan rakyat dari golongan atas.
Walaupun tujuan Sarekat Islam yang dirumuskan tidak bersifat politik,
akan tetapi kegiatan-kegiatannya memperjuangkan keadilan dan kebenaran
dari penindasan pemerintah kolonial. Kenyataan ini membuat pemerintah
Hindia Belanda merasa khawatir. Oleh karena itu, yang mendapat ijin
pendirian hanya tingkat lokal/cabang. Sedangkan ijin pendirian Sarekat
Islam tingkat pusat ditolak.
Kongres pertama Sarekat Islam dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 1913
di Surabaya dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto. Dalam kongres ini,
beliau menerangkan bahwa Sarekat Islam bukan partai politik dan tidak
beraksi melawan pemerintah Belanda. Pada waktu itu anggota Sarekat Islam
semakin bertambah. Di Jakarta berjumlah kurang lebih 12.000 anggota.
Kongres Sarekat Islam kedua dilaksanakan di Solo. Kongres kedua ini
memutuskan bahwa Sarekat Islam hanya terbuka bagi rakyat biasa sedangkan
pegawai pangreh praja tidak boleh menjadi anggota. Hal ini dimaksudkan
agar Sarekat Islam tetap merupakan organisasi rakyat.
Perkembangan Sarekat Islam semakin pesat. Pada tahun 1914 telah berdiri
56 Sarekat Islam Cabang. Pada bulan Februari 1915, Pimpinan Sarekat
Islam membentuk pengurus pusat yang dikenal dengan Central Sarekat Islam
(CSI) yang berkedudukan di Surabaya. Sebagai ketua kehormatan adalah H.
Samanhudi, H.O.S. Tjokroaminoto sebagai ketua, dan Raden Gunawan
sebagai wakil ketua. Pada tanggal 18 Maret 1916, Central Sarekat Islam
ini mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia - Belanda. Beberapa tokoh
Sarekat Islam yang lain adalah Abdul Muis, Wignyodisastro, dan Soewardi
Soerjaningrat. Ketiga orang ini merupakan pengurus SI di Bandung. Tokoh
lain yang bergabung ialah K.H. Agus Salim.
Pada tanggal 17 – 24 Juni 1916, diadakan kongres Sarekat Islam yang
ketiga di Bandung. Kongres ini dinamakan Kongres (SI) Nasional Pertama.
Jumlah cabang SI ada 50, dan jumlah semua anggota pada waktu itu sudah
mencapai 800.000. Dalam kongres ini, SI mulai melontarkan pernyataan
bahwa rakyat perlu diberi kesempatan berpartisipasi dalam politik
Pada tanggal 20 – 27 Oktober 1917, SI mengadakan kongres yang keempat
(Kongres Nasional Kedua) di Jakarta. Dalam kongres ini di tubuh SI
terdapat perbedaan pendapat. Abdul Muis menyatakan perlunya SI
berpartisipasi dalam Volksraad. Sebaliknya, Semaun dan sebagian kecil
pimpinan SI menolak ikut dalam Volksraad. Perpecahan di dalam tubuh SI
ini memberikan peluang kepada H.J.F.M.Sneevliet dari golongan sosialis
untuk memengaruhi sejumlah anggota SI Semarang agar menjadi anggota ISDV
(Indische Sociaal Democratische Vereniging). Dengan taktik infiltrasi
inilah golongan sosialis berhasil menyusup ke dalam tubuh SI. Seorang
tokoh komunis yang pernah tinggal di Moskwa, Darsono menyatakan tidak
percaya pada kepemimpinan HOS. Tjokroaminoto.
Memasuki tahun 1920 Sarekat Islam pecah menjadi dua yaitu:
1) SI yang berpaham Islam, dikenal dengan SI Putih atau golongan kanan.
Kelompok ini dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto, H. Agus Salim, dan
Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
2) SI yang berpaham Marxisme atau Komunisme, dengan SI Merah atau
golongan kiri. Kelompok ini dipimpin Semaun yang berpusat di Semarang.
Pada akhir tahun 1921 (dalam kongres keenam) diputuskan adanya
disiplinpartai yakni larangan anggota SI merangkap dua keanggotaan
partai politik. Dengan demikian kelompok Semaun dapat terdepak dari SI.
Pada tahun 1923, kelompok Semaun ini secara resmi diakui sebagai cabang
Partai Komunis Indonesia dengan nama Sarikat Rakyat.
Pada tanggal 17-20 Februari 1923, SI menyelenggarakan Kongres Nasional
ketujuh di Madiun. Nama SI pada waktu itu diubah menjadi Partai Sarekat
Islam (PSI). Kemudian atas pengaruh dr. Sukiman yang baru pulang dari
Belanda, PSI diubah menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Dalam
perkembangannya PSII pecah menjadi dua kelompok yakni kelompok Sukiman
yang menghendaki PSII menekankan pada asas kebangsaan, dan kelompok HOS
Tjokroaminoto yang menekankan pada asas agama. Kelompok Sukiman
mendirikan partai baru yakni Partai Islam Indonesia (PARII). Pada tahun
1940, PSII pecah lagi menjadi PSII Kartosuwiryo. Inilah perkembangan
Sarekat Islam di mana untuk mencapai tujuannya harus menghadapi berbagai
tantangan.
c. Indische Partij (IP)
Indische Partij didirikan di Bandung pada tanggal 25 Desember 1912.
Pendirinya Dr. E.F.E. Douwes Dekker sebagai ketua sedangkan Suwardi
Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan dr. Tjipto Mangunkusumo sebagai
wakil ketua. Ketiga tokoh ini kemudian dikenal dengan ”Tiga Serangkai”.
Adapun tujuan Indische Partij seperti yang termuat dalam anggaran dasar
yaitu membangunkan patriotisme semua ”Indiers” terhadap tanah air. Juga
untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Untuk mencapai tujuan
tersebut ditetapkan cara-cara sebagai berikut.
1) Memelihara nasionalisme dengan cara meresapkan cita-cita kesatuan bangsa Indonesia.
2) Memberantas rasa kesombongan rasial.
3) Memberantas usaha-usaha untuk membangkitkan kebencian antar-agama.
4) Berusaha mendapatkan persamaan hak bagi semua orang Indonesia (Hindia).
5) Memperbesar pengaruh pro Hindia (Indonesia) di dalam pemerintahan.
6) Memperbaiki ekonomi rakyat Indonesia dengan memperkuat mereka yang lemah ekonominya.
Sebagai media untuk menyebarluaskan pandangan-pandangan Indische Partij
digunakan surat kabar De Express. Melalui surat kabar ini Indische
Partij berkembang ke berbagai daerah. Hal ini terbukti didirikannya 30
cabang IP dengan anggota sejumlah 7.300 orang yang sebagian besar
merupakan Indo-Belanda, sedangkan jumlah anggota bangsa Indonesia 1500
orang.
Melihat tujuan dan cara-cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan di atas
dapat dikatakan bahwa Indische Partij merupakan partai politik yang
pertama kali di Indonesia. Permohonan ijin pendirian partai ditolak oleh
pemerintah Hindia Belanda dan Indische Partij dinyatakan sebagai partai
terlarang dengan alasan organisasi itu berdasar politik dan mengancam
keamanan umum.
Pada waktu pemerintah kolonial Belanda hendak merayakan ulang tahun
ke-100 kemerdekaan Negeri Belanda dari penjajahan Perancis, di Bandung
dibentuklah”Komite Bumiputera”. Komite ini menerbitkan tulisan Suwardi
Suryaningrat yang berjudul ”Als ik een Nederlander was ...” Yang isinya
merupakan sindiran tajam mengenai ketidakadilan di daerah jajahan.
Dengan alasan kegiatan komite ini berbahaya maka pada bulan Agustus 1913
ketiga tokoh Indische Partij dijatuhi hukuman buangan. Douwes Dekker
dibuang ke Timor Kupang, dr. Tjipto Mangunkusumo dibuang ke Banda, dan
Suwardi Suryaningrat dibuang ke Bangka.Tetapi atas permintaan mereka
sendiri pembuangan itu dipindahkan ke negeri Belanda. Kesempatan di
negeri Belanda itu oleh mereka digunakan untuk menambah dan memperdalam
ilmu.
Dengan kepergian ketiga pemimpin tersebut maka kegiatan Indische Partij
makin lemah. Kemudian Indische Partij berganti nama menjadi Partai
Insulinde dengan asas utamanya mendidik suatu nasionalisme Hindia dengan
memperkuat cita-cita persatuan bangsa.
Kembalinya Douwes Dekker dari negeri Belanda tidak banyak berarti bagi
perkembangan Partai Insulinde. Pada bulan Juni 1919 partai ini berganti
nama menjadi National Indische Partij (NIP), namun partai ini tidak
banyak berpengaruh terhad ap rakyat. Sedangkan pembebasan hukuman
terhadap Suwardi Suryaningrat dilakukan pada bulan Juli 1918. Kemudian
ia berjuang di bidang pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa.
4. Masa Radikal
a. Perhimpunan Indonesia (PI)
Pada tahun 1908 di Negeri Belanda berdirilah organisasi para mahasiswa
Indonesia yang belajar di sana. Semula organisasi ini bernama Indische
vereeniging. Pendirinya antara lain Sultan Kesayangan dan R.N. Noto
Suroto. Tujuan yang ingin dicapai organisasi ini adalah untuk memajukan
kepentingan bersama dari orangorang yang berasal dari Indonesia di
Negeri Belanda.
Pada tahun 1922, Indische Vereeniging yang bersifat sosial, beralih
bersifat politik dengan nama Indonesische Vereniging. Perubahan nama
ini ada hubungannya dengan timbulnya Kesadaran Nasional setelah Perang
Dunia I, kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij yang dibuang ke negeri
Belanda yakni dr. Cipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat, dan
E.F.F. Douwes Dekker, dan juga kedatangan mahasiswa yang belajar ke
negeri Belanda yakni Ahmad Subardjo pada tahun 1919 dan Mohammad Hatta
tahun 1921.
Kesadaran politik di kalangan Indische Vereeniging kemudian diperkuat
lagi oleh peristiwa kedatangan Comite Indie Werbaar (Panitia Ketahanan
Hindia Belanda) yang mengajukan usul kepada pemerintah untuk memperkuat
ketahanan Hindia Belanda di waktu perang dengan melatih orang-orang
Indonesia di bidang militer. Panitia itu terdiri atas R.Ng. Dwijosewoyo,
Abdul Muis, dan Kolonel Rhemev.
Pada bulan Maret 1923, Majalah Hindia Poetra menyebutkan bahwa asas dari
organisasi Indonesische Vereeniging adalah sebagai berikut:
Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang bertanggung jawab
hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata, bahwa hal yang demikian itu
hanya akan dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri bukan dengan
pertolongan siapa pun juga; bahwa segala jenis perpecahan tenaga
haruslah dihindarkan, supaya tujuan itu lekas tercapai. Sejak tahun 1923
Indonesische Vereeniging aktif berjuang dan mempelopori dari jauh
perjuangan kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia. Majalah Hindia
Poetra pada tahun 1924 diubah menjadi Indonesia Merdeka, dan pada tahun
1925 organisasi Indonesische Vereeniging diubah menjadi Perhimpunan
Indonesia .
Sementara itu kegiatan PI meningkat menjadi nasional - demokratis,
nonkooperasi dan meninggalkan sikap kerja sama dengan kaum penjajah,
bahkan lebih bersifat internasional dan anti kolonial. Jadi asas
perjuangan PI adalah self help dan non kooperatif yakni berjuang dengan
kekuatan sendiri dan tidak minta bantuan pemerintah kolonial Belanda.
Dalam kongres ke-6 Liga Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di
Paris (Prancis) bulan Agustus 1926, Moh. Hatta dengan tegas menyatakan
tuntutan untuk kemerdekaan Indonesia. Hal ini menambah kecurigaan
pemerintah Belanda terhadap PI.
Moh. Hatta atas nama PI menandatangani perjanjian rahasia dengan Semaun
(tokoh PKI) pada tanggal 5 Desember 1926. Isinya perjanjian menyatakan
bahwa PKI mengakui kepemimpinan PI dan akan dikembangkan menjadi suatu
partai rakyat kebangsaan Indonesia, selama PI secara konsekuen tetap
menjalankan politik untuk kemerdekaan Indonesia. Semakin aktifnya
tokoh-tokoh PI berhubungan dengan tokoh-tokoh politik bangsa Indonesia
maupun kegiatan internasional sejak adanya manifesto politik tahun 1925,
menimbulkan reaksi keras dari pemerintah Belanda. Pada tanggal 10 Juni
1927 empat anggota PI yakni Moh. Hatta, Nazir Pamuncak, Abdul Majid
Joyodiningrat, dan Ali Sastroamijoyo ditangkap dan ditahan pemerintah
Belanda. Mereka akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.
Inilah sikap dari para pejuang yang memegang teguh prinsip berani karena
benar.
PI merupakan organisasi politik bangsa Indonesia yang berada di luar
negeri yang berhasil mempengaruhi pergerakan kebangsaan Indonesia secara
berangsurangsur. Lebih-lebih setelah munculnya pernyataan politik tahun
1925. PI berperan sebagai penyemangat kepada pergerakan nasional di
tanah air. Lahirnya Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) tahun
1926, Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927, dan Jong Indonesia
(Pemuda Indonesia) tahun 1927 secara langsung mendapat ilham dari
Perhimpunan Indonesia.
b. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Pada masa sebelum Perang Dunia I, paham komunis masuk ke Indonesia
dibawa oleh seorang pimpinan buruh Negeri Belanda bernama H.J.F.M.
Sneevliet. Ia adalah anggota Partai Buruh Sosial Demokrat atau Sociaal
Democratische Arbeiderspartij. Semula ia tinggal di Surabaya sebagai
staf redaksi sebuah surat kabar kemudian dipindahkan ke Semarang dan
menjadi sekretaris pada Semarangse Handelsblad.
Pada tanggal 9 Mei 1914, Sneevliet bersama rekan-rekannya, J.A.
Brandsteder, H.W. Dekker dan P. Bergsma, mendirikan organisasi yang
dinamakan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV). Haluan
organisasi ini adalah Marxisme.
Pada mulanya ISDV tidak berkembang, maka untuk mencari anggota mereka
cara menyusup ke tubuh partai-partai lain. Ketika tidak berhasil, mereka
mendekati Insulinde maka diarahkan ke dalam Sarekat Islam. Taktik ini
berhasil sehingga SI pecah menjadi dua kubu dan muncullah pemimpin
ranting dalam ISDV yang berhaluan marxis seperti Semaun dan Darsono.
Pada tanggal 23 Mei 1920, oleh Baars, Bergsma, dan Semaun beserta
kawankawannya, ISDV diubah menjadi Partai Komunis Hindia. Kemudian pada
bulan Desember 1920, Partai ini diubah menjadi Partai Komunis Indonesia
(PKI). Susunan pengurus baru organisasi ini, antara lain Semaun sebagai
ketua, Darsono sebagai wakil ketua, Bergsma sebagai sekretaris, Dekker
sebagai bendahara, Baars, Sugono, dan lain-lain sebagai anggota
pengurus.
Pada tahun 1923, PKI semakin kuat dengan bergabungnya tokoh-tokoh
seperti Alimin Prawirodirdjo (pemimpin SI merah) dan Musso (dari PKI
cabang Jakarta). Setelah merasa kuat, PKI melakukan aksinya dengan
mengobarkan pemberontakan di Jakarta pada tanggal 13 November 1926,
disusul dengan tindakan kekerasan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa
Timur serta pemberontakan di Sumatra Barat pada tanggal 1 Januari 1927.
Pemberontakan ini dapat ditumpas oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Pemberontakan PKI ini merupakan tindakan yang sia-sia karena massa PKI
sama sekali tidak siap di samping organisasinya masih kacau.
Pemberontakan PKI ini mengakibatkan korban ribuan rakyat dihasut untuk
ikut serta dalam pemberontakan sehingga sekitar 13.000 orang ditangkap,
mereka yang dihukum sejumlah 4.500 orang, dan yang dibuang ke Tanah
Merah, Digul Atas, Irian Jaya sekitar 1.300 orang. Oleh Pemerintah
Hindia Belanda, PKI dinyatakan sebagai partai terlarang. Akibat buruk
lainnya yang menimpa perjuangan bangsa Indonesia akibat pemberontakan
PKI adalah berupa penindasan yang luar biasa terhadap para pemimpin
perjuangan. Itulah suatu tindakan PKI yang merugikan perjuangan bangsa
Indonesia secara keseluruhan.
c. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pada tahun 1925, Ir. Soekarno mendirikan perkumpul-an Algeemene Studie
Club di Bandung. Atas insiatif perkumpulan ini maka pada tanggal 4 Juli
1927 berdirilah partai politik baru yaitu Partai Nasional Indonesia.
Para pendirinya adalah Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Ir.
Anwari, Mr. Sartono, Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo, Mr. Sunaryo, Mr.
Budiarto, dan Dr. Samsi. Dari 8 orang pendiri ini, 5 orang merupakan
mantan anggota Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda.
Tujuan PNI adalah untuk mencapai Indonesia Merdeka. Adapun asasnya
adalah Self-help, non kooperatif, dan marhaenisme. Pada waktu rapat di
Bandung tanggal 17 – 18 Desember 1927, PNI dapat menggalang persatuan
dengan Partai Sarekat Islam Indonesia, Budi Utomo, Pasundan, Sumatranche
Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studieclub, dan Algeemene Studieclub
dengan membentuk Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan
Indonesia (PPKI). Permufakatan ini bertujuan menyatukan aksi dalam
menghadapi imperialisme Belanda.
Dalam Kongres PNI yang pertama di Surabaya (27 – 30 Mei 1928) disyahkan susunan pengurus seperti berikut:
1) Ketua : Ir. Soekarno
2) Sekretaris/Bendahara : Mr. Iskaq Tjokrohadisuryo
3) Anggota : Dr. Samsi Sastrowidagdo, Mr. Sartono, Mr. Sunaryo, dan Ir. Anwari.
Dalam kongres ini juga disahkan program kegiatan yang meliputi bidang politik, ekonomi, dan sosial.
Kongres PI yang kedua tanggal 18 - 20 Mei 1929 di Jakarta, menetapkan
untuk memilih kembali pengurus PB PNI yang lama. Di samping itu juga
memutuskan program kegiatan di bidang ekonomi/sosial dan politik.
Di bidang ekonomi/sosial antara lain menyokong perkembangan Bank
Nasional Indonesia, mendirikan koperasi-koperasi, mendirikan
sekolah-sekolah, rumah sakitrumah sakit, dan lain-lain. Sedangkan di
bidang politik, mengadakan hubungan dengan Perhimpunan Indonesia di
Negeri Belanda dan menunjuk Perhimpunan Indonesia sebagai wakil PPPKI di
luar negeri.
Melihat sepak terjang PNI yang gigih dan semakin memperoleh simpati
rakyat Indonesia, pemerintah kolonial Belanda menjadi semakin cemas.
Pada akhir tahun 1929 tersebar desas-desus PNI akan melakukan
pemberontakan pada awal tahun 1930. Maka berdasarkan desas-desus ini
pada tanggal 24 Desember 1929, pemerintah Hindia Belanda mengadakan
penggeledahan dan menangkap empat tokoh PNI, yaitu Ir. Soekarno, Gatot
Mangkuprodjo, Maskoen, dan Soepriadinata. Mereka diajukan di depan
pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu Ir. Soekarno melakukan
pembelaan dengan judul ”Indonesia Menggugat” akan tetapi hakim kolonial
tetap menjatuhi hukum penjara kepada keempat tokoh ini.
Penangkapan terhadap para tokoh PNI merupakan pukulan berat dan
menggoyahkan partai. Pada kongres luar biasa tanggal 25 April 1931
diputuskan untuk membubarkan PNI. Hal ini menyebabkan pro dan kontra.
Mereka yang setuju PNI dibubarkan mendirikan Partai Indonesia (Partindo)
dipimpin Mr. Sartono. Sedangkan yang tidak setuju PNI dibubarkan masuk
ke dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) dipimpin Moh. Hatta
dan Syahrir.
5. Masa Moderat
Partai-partai yang berjuang pada masa radikal bersikap non kooperasi
(tidak mau bekerja sama) dengan pemerintah kolonial Belanda seperti
Perhimpunan Indonesia, Partai Komunis Indonesia, dan Partai Nasional
Indonesia. Sejak tahun 1930, perjuangan partai-partai mulai mengubah
taktiknya, partai-partai sudah bersifat moderat (agak lunak) dan
menggunakan taktik kooperasi artinya mau bekerja sama dengan Pemerintah
Kolonial Belanda.
Hal-hal yang menyebabkan perubahan taktik perjuangan tersebut adalah
karena dunia pada waktu itu dilanda krisis ekonomi (malaise). Hal ini
mempengaruhi keadaan ekonomi di Hindia Belanda sehingga berpengaruh
terhadap pergerakan nasional. Selain itu Pemerintah Hindia Belanda
semakin bersikap keras terhadap partai-partai politik. Apalagi setelah
PKI melakukan pemberontakan pada tahun 1926. Ada dua partai yang
bersifat moderat dengan taktik kooperasi yaitu Partai Indonesia Raya dan
Gerakan Rakyat Indonesia.
a. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Partai Indonesia Raya merupakan fusi (gabungan) dari Budi Utomo dan
Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Penggabungan dua organisasi ini
dilaksanakan pada kongresnya di Surakarta tanggal 25 Desember 1935.
Tujuan Partai Indonesia Raya adalah untuk mencapai Indonesia mulia dan
sempurna, dengan dasar nasionalisme Indonesia. Taktik perjuangannya
adalah kooperasi. Oleh karena itu, Parindra mempunyai wakilnya di
Volksraad untuk membela kepentingan rakyat. Selain perjuangan melalui
volksraad Parindra juga melakukan beberapa usaha, antara lain sebagai
berikut.
1) Di bidang pertanian dengan mendirikan Perhimpunan Rukun Tani untuk
membantu kehidupan petani dan mendirikan Bank Nasional Indonesia.
2) Di bidang pelayaran dengan membentuk Rukun Pelayaran Indonesia.
Kepengurusan Parindra pada awal terbentuknya organisasi ini adalah Dr.
Sutomo sebagai ketua dan Wuryaningrat sebagai wakil ketua. Sedangkan
Kepala Departemen Politik dalam Pengurus besar Parindra adalah Muhammad
Husni Thamrin.
b. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Gerakan Rakyat Indonesia didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937.
Tokoh-tokoh partai ini adalah para pemimpin Partindo yang dibubarkan
pada tanggal 18 November 1936. Mereka ada Mr. Sartono, Mr. Amir
Syarifudin, Dr. A.K. Gani, dan Mr. Moh. Yamin. Tujuannya adalah untuk
mencapai kemerdekaan di bidang ekonomi, sosial, dan politik. Dalam waktu
singkat, partai ini berkembang dengan cepat dan memperoleh posisi yang
kuat sebagai partai yang berhaluan nasional anti-fasis. Dengan
menggunakan taktik kooperasi, Gerindo melakukan aksi perjuangannya.
Perkembangan Gerindo selalu diawasi pemerintah kolonial Belanda, dan
pada saat Jepang masuk ke Indonesia partai ini dibubarkan.
6. Masa Bertahan
a. Fraksi Nasional
Perjuangan bangsa Indonesia juga dilakukan wakil-wakil partai yang duduk
dalam Volksraad. Dengan dipelopori oleh Moh. Husni Thamrin maka pada
tanggal 27 Januari terbentuklah Fraksi Nasional di Jakarta. Terbentuknya
Fraksi Nasional ini didorong oleh beberapa hal, di antaranya tindakan
keras pemerintah kolonial Belanda terhadap gerakan politik dengan
memperlakukan yang sama antara gerakan yang bersifat non maupun
kooperasi.
Terhadap para pemimpin perkumpulan yang moderat, pemerintah kolonial
juga melakukan penggeledahan. Tujuan yang ingin dicapai oleh Fraksi
Nasional adalah menjamin adanya kemerdekaan nasional dalam waktu
singkat dengan mengusahakan perubahan ketatanegaraan, menghapuskan
jurang perbedaan politik, ekonomi, dan intelektual.
Kegiatan yang dilakukan Fraksi Nasional antara lain pembelaan terhadap
para pemimpin PNI yang ditangkap tahun 1930. Di samping itu, juga
menentang pemborosan anggaran pertahanan pemerintah kolonial karena akan
mematikan pergerakan nasional. Dilihat dari perjuangannya, Fraksi
Nasional ini bersifat radikal. Perjuangan melalui volksraad ini tidak
memuaskan dan suara Fraksi Nasional terpecah dalam menanggapi Petisi
Sutarjo.
b. Gabungan Politik Indonesia (GAPI)
Pada tahun 1939 timbul kembali gagasan untuk membina kerja sama
antarpartai politik dalam bentuk federasi (gabungan). Pada tanggal 21
Mei 1939 di Jakarta dibentuklah suatu organisasi kerja sama antarpartai
politik dan organisasi yang diberi nama Gabungan Politik Indonesia
(GAPI). Beberapa peristiwa yang mendorong dan mempercepat terbentuknya
GAPI adalah:
1) Kegagalan petisi Sutarjo.
2) Kegentingan internasional akibat timbulnya fasisme.
3) Sikap pemerintah yang kurang memperhatikan kepentingan-kepentingan bangsa Indonesia.
Partisipasi dan organisasi-organisasi yang tergabung dalam GAPI adalah
PSII, Gerindo, PII, Pasundan, Persatuan Minahasa, dan Partai Katholik.
Adapun yang duduk dalam sekretariat GAPI yang pertama kali yaitu
Abikusno Tjokrosuyoso dari PSII (Penulis Umum), Muhammad Husni Thamrin
dari Parindra (Bendahara), dan Mr. Amir Syarifuddin dari Gerindo
(Pembantu Penulis).
Di dalam konferensi pertama GAPI tanggal 4 Juli 1939 telah dibicarakan
aksi GAPI dengan semboyan ”Indonesia Berparlemen”. Untuk menyokong
aksinya, GAPI membentuk Kongres Rakyat Indonesia. Kongres Rakyat
Indonesia pertama tanggal 25 Desember 1939 di Jakarta telah menetapkan
beberapa keputusan yakni penggunaan bendera merah putih dan lagu
Indonesia Raya sebagai bendera dan lagu persatuan Indonesia, serta
peningkatan penggunaan bahasa Indonesia bagi rakyat Indonesia.
Menghadapi tuntutan Indonesia berparlemen yang disuarakan GAPI,
pemerintah Belanda membentuk suatu komisi yang terkenal dengan Komisi
Visman, karena diketuai Dr. EH. Visman. Komisi ini bertugas untuk
menyelidiki dan mempelajari perubahan ketatanegaraan yang diinginkan
bangsa Indonesia. Karena tidak bekerja sungguh-sungguh maka tidak
membuahkan hasil. Akhirnya situasi politik di Indonesia semakin gawat
dengan adanya bayangan Perang Dunia II (Perang Pasifik). Pemerintah
Hindia Belanda akan membicarakan tuntutan bangsa Indonesia setelah
perang pasifik selesai. Akan tetapi selama perang pasifik, Indonesia
diduduki oleh tentara Jepang.
SELAIN perkembangan organisasi-organisasi dalam pergerakan nasional di
atas, perlu diketahui juga munculnya organisasiorganisasi keagamaan,
gerakan pemuda, dan organisasi-organisasi kewanitaan yang ikut andil
dalam pergerakan nasional. Perkembangan dan peran organisasi-organisasi
tersebut YAITU:
a) Organisasi Keagamaan
Perjuangan bangsa Indonesia tidaklah berakhir akibat larangan terhadap
organisasi politik oleh pemerintah kolonial Belanda. Para tokoh
pergerakan menyadari bahwa perjuangan tidaklah harus melalui organisasi
politik atau tindakan menentang pemerintah kolonial, akan tetapi suatu
tindakan yang bersifat luas yakni dalam hal kemanusiaan. Oleh karena
itu, muncullah organisasi-organisasi keagamaan yang ikut mengisi dalam
lembaran pergerakan nasional antara lain Muhammadiyah dan Nahdatul
Ulama.
i. Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330
H) di Yogyakarta oleh K.H. Ahmad Dahlan. Tujuan yang ingin dicapai
adalah memajukan pengajaran berdasarkan agama, memajukan pengertian ilmu
agama dan hidup menurut peraturan agama.
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam modern yang bergerak di berbagai
bidang kehidupan. Cara-cara untuk mencapai tujuan itu adalah
mendirikan, memelihara, menyokong sekolah-sekolah berdasarkan agama
Islam, mendirikan dan memelihara masjid dan langgar, dan sebagainya.
Jadi Muhammadiyah merupakan perkumpulan yang bergerak di bidang sosial,
pendidikan dan keagamaan. Pemerintah colonial Belanda tidak melarang
perkumpulan ini karena tidak bersifat menentang.
ii. Nahdatul Ulama (NU)
Nahdatul Ulama didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H)
di Surabaya atas prakarsa K.H. Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebu Ireng
dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Tujuan yang ingin dicapai oleh NU adalah
memperjuangkan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan ajaran Islam yang
berhaluan ahlusunah wal jamaah dengan menganut mazhab (4 aliran yaitu :
Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hambali). Untuk mencapai tujuannya NU
bergerak di berbagai bidang kehidupan umat yakni bidang agama,
pendidikan, sosial, dan ekonomi.
b) Gerakan Pemuda
Setelah kepengurusan Budi Utomo banyak dipegang oleh golongan tua maka
para pemuda mempunyai gagasan untuk membentuk suatu perkumpulan khusus
bagi para pemuda. Diawali dengan berdirinya Tri Koro Dharmo ini adalah
murid-murid sekolah menengah yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa
Timur saja sehingga Tri Koro Dharmo yang kemudian menjadi Jong Java maka
bermunculan organisasi-organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan
seperti Pasundan, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes
(Sulawesi), Jong Sumatranen Bond, Timorsch Verbound, dan lain-lain.
i. Tri Koro Dharmo
Pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta didirikan organisasi pemuda bernama
Tri Koro Dharmo oleh Dr. R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman dan Sunardi.
Tujuan organisasi ini adalah mencapai Jawa-Raya jalan memperkokoh rasa
persatuan antar pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok. Yang
menjadi anggota Tri Koro Dharmo ini adalah murid-murid sekolah menengah
yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur saja sehingga Tri Koro
Dharmo bersifat Jawa sentris. Oleh karena itu, pemuda-pemuda Sunda,
Madura, dan Bali enggan memasuki organisasi ini. Untuk menghindari
perpecahan maka Tri Koro Dharmo diubah menjadi Jong Java pada waktu
Kongres di Solo tanggal 12 Juni 1918.
ii. Jong Java
Jong Java bertujuan mendidik para anggotanya supaya ia kelak dapat
menyumbangkan tenaganya untuk pembangunan Jawa Raya dengan jalan
memperat persatuan, menambah pengetahuan anggota serta berusaha
menimbulkan rasa cinta akan budaya sendiri. Sebagai ketua terpilih dalam
organisasi ini adalah Sukiman Wiryosanjoyo.
Ketika Samsuridjal menjadi ketua, organisasi Jong Java mengarah ke
masalah politik dan tidak netral terhadap agama. Pada kongres ke-7 di
Solo (27-31 Desember 1926) di bawah pengaruh ketuanya, Sunardi
Djaksodipuro (Wongsonegoro) menekankan bahwa tujuan Jong Java tidak
hanya terbatas membangun Jawa Raya tetapi harus bercita-cita menggalang
persatuan dan membangun Indonesia Merdeka. Dengan demikian Jong Java
mulai memasuki gelanggang politik.
iii. Jong Sumatranen Bond
Jong Sumatranen Bond didirikan pada tanggal 9 Desember 1917 oleh 150
orang pemuda Sumatra yang sedang belajar di Jakarta. Tujuan organisasi
ini adalah:
a) Mempererat ikatan antarpemuda pelajar Sumatera.
b) Membangkitkan perhatian para anggota dan yang lain untuk menghargai
adat istiadat, seni, bahasa, kerajinan, pertanian, dan sejarah Sumatera.
Tokoh-tokoh yang terkenal dalam organisasi ini adalah Mohammad Hatta dan Muhammad Yamin.
iv. Jong Ambon
Sejak tahun 1908 orang-orang Ambon mulai membentuk organisasi. Akan
tetapi organisasi pemuda Jong Ambon baru dibentuk tahun 1918. Di
beberapa kota banyak berdiri organisasiorganisasi orang-orang Ambon.
Oleh karena itu pada tanggal 9 Mei 1920 seorang tokoh muda dari Maluku
A.J. Patty mendirikan Sarikat Ambon yang bergerak di bidang politik. Ia
ditangkap pemerintah kolonial dan diasingkan ke Flores. Tokoh lain dari
Ambon yang terkenal adalah Mr.Laturharhary.
Dengan berdirinya organisasi-organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan
di atas maka di daerah-daerah lain juga terpengaruh. Antara tahun 1918 –
1919 berdiri Jong Minahasa dan Jong Celebes. Salah satu tokoh terkenal
dari Minahasa adalah Ratu Langie. Pada tahun 1920, para pemuda dari suku
Sunda di Jakarta mendirikan Sekar Rukun. Sedangkan M.H. Thamrin
mendirikan organisasi Pemuda Betawi untuk menghimpun asli Jakarta. Pada
bulan September 1921 berdirilah organisasi Pemuda Timorsch Verbound
(Perhimpunan Timor) oleh J. W. Ammallo.
Organisasi ini bertujuan membantu anggotanya dan memajukan kebudayaan,
ekonomi, dan sosial. Pada tahun 1926 para pemuda Batak mendirikan Jong
Bataks Bond. Di samping berdirinya organisasi-organisasi kepemudaan yang
bersifat kedaerahan, juga berdiri organisasi-organisasi kepemudaan yang
bersifat keagamaan misalnya Jong Islamieten Bond dan
Perkumpulan-Perkumpulan Pemuda Kristen (PPPK).
D. Peran Manifesto Politik 1925, Kongres 1928 dan Perempuan Pertama dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia
1. Peran Manifesto Politik 1925 dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia
Pada tahun 1908 di negeri Belanda berdirilah organisasi Indische
Vereenlging. Organisasi ini didirikan para mahasiswa yang belajar di
negeri Belanda. Mereka itu adalah Sutan Kasayangan Sorlpada, R.N. Noto
Suroto, R.P. Sosrokartono, R. Husein Djayadiningrat, Notodiningrat,
Sumitro Kolopaking, dan dr. Apituley.
Tujuan organisasi ini adalah memajukan kepentingan-kepentingan bersama
dari orang-orang yang berasal dari Indonesia, maksudnya orang-orang
pribumi dan non pribumi bukan Eropa di negeri Belanda.
Pada mulanya organisasi ini bersifat sosial budaya, namun sejak
berakhirnya Perang Dunia I perasaan anti kolonialisme dan imperialisme
tokoh-tokoh Indische Vereeniging semakin menonjol. Mereka mengubah
suasana dan semangat kegiatan organisasi ke dalam bidang politik. Hal
ini dipengaruhi oleh kedatangan tiga tokoh Indische Partij yang dibuang
Belanda yakni Dr. Cipto Mangunkusumo, R.M. Suwardi Suryaningrat, dan
E.F.E. Douwes Dekker, yang berjiwa Nasionalis.
Paham nasionalisme semula berkembang di Eropa. Nasionalisme pada
hakikatnya merupakan kesetiaan manusia sebagai warga negara pada
kepentingan bangsanya. Nasionalisme dapat diartikan sebagai perasaan
cinta terhadap bangsa dan tanah airnya yang ditimbulkan oleh perasaan
tradisi (sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat
tinggal) dan keingingan untuk mempertahankan serta mengembangkan tradisi
sebagai milik bersama. Manifesto politik Perhimpunan Indonesia yang
lahir di negeri Belanda juga tidak terlepas dari jiwa nasionalisme
mahasiswa Indonesia yang belajar di Eropa.
Manifesto politik adalah suatu pernyataan terbuka tentang tujuan dan
pandangan seseorang atau suatu kelompok terhadap masalah negara. Pada
masa pergerakan nasional, Perhimpunan Indonesia mengeluarkan pernyataan
politik yang berkaitan dengan nasib dan masa depan bangsanya. Pernyataan
politik ini amat penting artinya bagi terwujudnya Indonesia merdeka
yang didengar dan didukung oleh dunia Internasional.
Konsep-konsep manifesto politik Perhimpunan Indonesia sebenarnyatelah
dimunculkan dalam Majalah Hindia Poetra, edisi Maret 1923. Akan tetapi,
Perhimpunan Indonesia baru menyampaikan manifesto politiknya secara
tegas pada awal tahun 1925 yang kemudian dikenal sebagai Manifesto
Politik 1925. Indische Verreniging sejak berdirinya tahun 1908 belum
pernah terjadi perubahan yang mendasar. Dengan mengikuti lajunya
perkembangan jaman, terutama dalam bidang pergerakan nasional maka
organisasi yang dibentuk di negeri Belanda juga mengalami perkembangan.
Perkembangan baru dalam tubuh organisasi itu juga membawa perubahan nama
yakni pada tahun 1922 Indische Vereeniging diubah menjadi Indonesische
Vereeniging. Pada bulan Maret 1923 Majalah Hindia Poetra menyebutkan
bahwa asas dari organisasi Indonesische Vereeniging itu adalah sebagai
berikut: Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia, yang
bertanggung jawab hanya kepada rakyat Indonesia semata-mata, bahwa hal
yang demikian itu hanya akan dapat dicapai oleh orang Indonesia sendiri
bukan dengan pertolongan siapa pun juga; bahwa segala jenis perpecahan
tenaga haruslah dihindarkan, supaya tujuan itu lekas tercapai.
Sejak tahun 1923 Indonesische Vereeniging aktif berjuang bahkan
mempelopori dari jauh perjuangan kemerdekaan untuk seluruh rakyat
Indonesia. Pada tahun itu juga diterbitkan suatu buku peringatan
Indonesische Vereeniging yang menggemparkan kaum kolonial Belanda.
Pada tahun 1924 nama majalah Hindia Poetra diubah menjadi Indonesia
Merdeka. Kemudian tahun 1925 dipakailah nama baru organisasi
Indonesische Vereeniging menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Kegiatan
organisasi PI ini semakintegas dalam bidang politik.
Dengan bertambahnya mahasiswa yang belajar di negeri Belanda, maka
bertambah pulalah kekuatan organisasi PI. Pada permulaan tahun 1925
dibuatlah suatu Anggaran Dasar baru yang merupakan penegasan lebih jelas
dari perjuangan PI. Pada saat itu PI di bawah pimpinan Dr. Sukiman
Wiryosanjoyo. Anggaran Dasar baru itu merupakan manifesto politik, di
dalamnya dimuat prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan oleh gerakan
kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan.
Cita-cita Perhimpunan Indonesia tertuang dalam 4 pokok ideologi dengan
memerhatikan masalah sosial, ekonomi dengan menempatkan kemerdekaan
sebagai tujuan politik yang dikembangkan sejak tahun 1925 dirumuskan
sebagai berikut.
1) Kesatuan Nasional: mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit seperti
yang berkaitan dengan kedaerahan, serta perlu dibentuk suatu kesatuan
aksi untuk melawan Belanda untuk mentiptakan negara kebangsaan Indonesia
yang merdeka dan bersatu.
2) Solidaritas: terdapat perbedaan kepentingan yang sangat mendasar
antara penjajah dengan yang dijajah (Belanda dengan Indonesia). Oleh
karena itu haruslah mempertajam konflik antara orang kulit putih dan
sawo matang tanpa melihat perbedaan antara orang Indonesia.
3) Non-kooperasi: harus disadari bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, oleh
karena itu hendaknya dilakukan perjuangan sendiri tanpa mengindahkan
lembaga yang telah ada yang dibikin oleh Belanda seperti Dewan
Perwakilan Kolonial (Volksraad).
4) Swadaya: perjuangan yang dilakukan haruslah mengandalkan kekuatan
diri sendiri. Dengan demikian perlu dikembangkan struktur alternatif
dalam kehidupan nasional, politik, sosial, ekonomi, hukum yang kuat
berakar dalam masyarakat pribumi dan sejajar dengan administrasi
kolonial. Dalam rangka merealisasikan keempat pikiran pokok berupa
ideologi.
Dalam deklarasi tersebut ditekankim pula pokok-pokok, seperti ide unity
(kesatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan).
Perhimpunan Indonesia berusaha menggabungkan semua unsur tersebut
sebagai satu kebulatan yang belum pernah dikembangkan oleh
organisasi-organisasi sebelumnya. Perhimpunan Indonesia percaya bahwa
semua orang Indonesia dapat menerima dan menciptakan gerakan yang kuat
dan terpadu untuk memaksakan kemerdekaan kepada pihak Belanda.
Pernyataan di atas merupakan cita-cita Perhimpunan Indonesia yang
mengandung 4 pokok ideologi yang dikembangkan sejak tahun 1925. Empat
pokok ideologi tersebut meliputi kesatuan nasional, solidaritas,
nonkooperasi, dan swadaya. Dan di sinilah dapat kita Iihat bahwa
Perhimpunan Indonesia merupakan sebuah organisasi pergerakan kebangsaan
Indonesia.
2. Peran Kongres Pemuda 1928 dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia
Sejak berdirinya Budi Utomo (20 Mei 1908) maka muncullah organisasi
organisasi pergerakan kebangsaan di berbagal daerah. Di antaranya
organisasi pemuda Tri Koro Dharmo (7 Maret1915) yang dldlrikan di
Jakarta oleh Dr. R. Satiman Wiryosanjoyo, Kadarman dan Sunardi. Tujuan
organisasi ini adalah mencapai Jawa-Raya dengan jalan lain memperkokoh
persatuan antara pemuda Jawa, Sunda, dan Madura. Untuk rnenghindari
perpecahan maka pada waktu kongres di Solo ditetapkan bahwa mulai
tanggal 12 Juni 1918 namanya diubah menjadi Jong Java.
Jong Java bertujuan mendidik para anggotanya supaya kelak ia dapat
menyumbangkan tenaganya untuk pembangunan Jawa-Raya dengan jalan
mempererat persatuan, menambah pengetahuan anggota, serta berusaha
menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri. Dalam perkembangannya,
ternyata Jong Java juga ikut berpolitik.
Seiring dengan berdirinya Jong Java, berdiri pula
perkumpulan-perkumpulan pemuda bersifat kedaerahan, seperti Pemuda
Pasundan, Jong Sumateranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon,
dan Jong Celebes (Sulawesi). Semua organisasi kepemudaan ini
bercita-cita ke arah kemajuan Indonesia terutama memajukan budaya dan
daerahnya maslng-masing.
Dengan munculnya perkumpulan-perkumpulan ini ternyata terdapat
benih-benih yang dapat disatukan ke arah persatuan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu pemuda-pemuda Indonesia merasa, perlu membentuk suatu
wadah untuk menyamakan langkah dalam mencapai tujuan. Wadah kegiatan
itulah yang dikenal dengan Kongres Pemuda yang disebut juga dengan nama
Sumpah Pemuda.
Sumpah Pemuda yang kemudian dikenal sebagai sebuah tonggak dalam sejarah
Indonesia tidak dapat dilepaskan dari organisasi kepemudaan seperti
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Perhimpunan
Pelajar-Pelajar Indonesia ini yang mendapat dukungan dari organisasi
kepemudaan yang lain sepertiJong Java, Jong Sumatera dan sebagainya
dengan penuh keyakinan ingin mencapai tujuannya yaitu persatuan
Indonesia. Organisasi yang bernama Jong Indonesia yang didirikan pada
Februari 1927 ini kemudian mengganti nama menjadi Pemuda Indonesia. Para
anggotanya terdiri dari murid-murid yang berasal dari AMS, RHS, dan
Stovia.
Dalam perjalanannya para pemuda ini menginginkan suatu upaya penyatuan
peletakan dasar untuk kemerdekaan dengan menentang ketidakadilan yang
dialami selama masa penjajahan. Pertemuan awalnya dimulai 15 Nopember
1925 dengan membentuk panitia Kongres Pemuda Pertama yang bertugas
menyusun tujuan kongres.
a. Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926)
1) Tempat kongres di Jakarta
2) Tujuan kongres: menanamkan semangat kerjasama antara perkumpulan
pemuda di Indonesia untuk menjadi dasar bagi persatuan Indonesia.
3) Susunan panitia Kongres Pemuda I
- Ketua : M. Tabrani
- Wakil Ketua : Sumarto
- Sekretaris : Jamaludin
- Bendahara : Suwarso
- Anggota : 1. Bahder Johan 4. Hammami
2. Yan Taole Soelehul 5. Sarbini
3. Paul Pinontuan 6. Sanusi Pane
4) Hasil kongres:
Mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia II
Mengusulkan sernua perkumpulan pemuda agar bersatu dalam satu organisasi pemuda Indonesia
Seusai kongres, para pemuda semakin menyadari bahwa perjuangan
kemerdekaan Indonesia hanya akan dicapai melalui persatuan. Pada tahun
1928 alam pikiran pemuda Indonesia sudah mulai dlpenuhi jiwa persatuan,
Rasa bangga dan rasa memiliki cita-cita tinggi, yaitu Indonesia merdeka
telah mencengkeram jiwa rakyat Indonesia.
b. Kongres Pemuda II
Kongres ini berlangsung di Gedung Indonesische Club, di Jalan Kramat
Raya 106 Jakarta, pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928. Kongres ini
terlaksana atas inisiatif dari PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar
Indonesia) dan Pemuda Indonesia. Ketua kongres ini adalah Sugondo
Joyopuspito.
Keputusan-keputusan Kongres Pemuda II sebagai berikut.
Mengucapkan ikrar Sumpah Pemuda.
Menetapkan lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.
Menetapkan sang Merah Putih sebagai bendera Indonesia.
Melebur semua organisasi pemuda menjadi satu dengan nama Indonesia Muda.
Kongres Pemuda II berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan
yang sangat penting untuk modal perjuangan selanjutnya. Sumpah Pemuda
amat berpengaruh bagi upaya mencapai lndonesia merdeka. Partai-partai
yang ada segera menyesualkan diri dengan cita-cita pemuda. Semangat
persatuan dan kesatuan bangsa yang telah menjiwai partai-partai di
Indonesia itu diwujudkan dalam wadah baru bernama Gabungan Poitik
Indonesia (GAPI).
Demikian pula beberapa perkumpulan wanita yang kemudian bergabung dalam
Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia, juga semua, organisasi kepanduan
yang membentuk persatuan dengan nama Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan
Indonesia (BPPKI).
Ada bebarapa makna yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda yaitu sebagai berikut:
1) Di kalangan tokoh-tokoh pergerakan telah ada, perubahan pola pikir dari Iingkup etnis kedaerahan ke cakrawala nasional .
2) Perubahan pola pikir itu melahirkan kesadaran nasional bahwa seluruh
penduduk yang mendiami kepulauan Nusantara menjadi satu bangsa besar
dengan nama Indonesia.
3) Untuk keperluan persatuan dalam pergerakan disepakati menggunakan bahasa Melayu sebagai media perjuangan
Dengan Kongres Pemuda itu identitas kebangsaan Indonesia semakin
terbentuk. Identitas itu kini berwujud: tanah air, bangsa, bahasa dan
persatuan dengan nama Indonesia. Dengan Kongres Pemuda II, rasa
persatuan dan kesatuan di kalangan pemuda dan bangsa Indonesia mengalami
peningkatan. Hal ini merupakan suatu keberanian dan keuletan yang luar
biasa dari pemuda kita. Walaupun di bawah tekanan senjata polisi
Kolonial Belanda, mereka tetap melaksanakan kewajiban dan pengabdian
guna memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan tanah airnya.
Kongres Pemuda II ini sangat penting bagi terbentuknya identitas sebagai
bangsa Indonesia. Karena pentingnya peristiwa Kongres Pemuda II bagi
bangsa Indonesia, maka tanggal 28 Oktober ditetapkan sebagai Hari Sumpah
Pemuda.
3. Peran Kongres Perempuan Pertama dalam Proses Pembentukan Identitas Kebangsaan Indonesia
Pergerakan kaum wanita di Indonesia dirintis oleh R.A. Kartini (1879 -
1904). Perjuangan R.A.Kartini memunculkan semangat nasionalisme bagi
kaum wanita. Sebagai penerus R.A. Kartini adalah Dewi Sartika (1884 -
1974) dari Jawa Barat. Berkat cita-cita R.A. Kartini, muncullah
gerakan-gerakan penididikan wanita di Indonesia, antara lain sebagai
berikut.
a) Putri Mardika, berdiri di Jakarta pada tahun 1912
Perkumpulan Putri Mardika ini bertujuan mencari dana bagi gadis-gadis
yang ingin melanjutkan pelajaran dan memberi nasihat bagi kaum putri.
b) Kartinifonds (Dana Kartini)
Perkumpulan ini didirikan oleh pasangan suami istri C. Th. Van Deventer.
Salah satu usahanya adalah mendirikan sekolah ”Kartini”. Sekolah
”Kartini” didirikan pertama kali di Semarang pada tahun 1913.
c) Keutamaan Istri (1913) di Tasikmalaya
Perkumpulan ini menaungi sekolah-sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika.
d) Kerajinan Amai Setia di Sumatera Barat.
Organisasi ini berdiri di Kota Gadang pada tahun 1914, didirikan oleh
Rohana Kudus. Tujuan perkumpulan ini untuk meningkatkan derajat kaum
wanita melalui pendidikan, membaca, menulis, berhitung maupun membuat
kerajinan tangan.
e) Kautaman Istri Minangkabau di Padang Panjang.
Organisasi ini bertujuan menyebarluaskan pengetahuan umum, pendirikan sekolah industri, dan kerajinan wanita.
f) Aisiyah
Organisasi ini didirikan pada tanggal 22 April 1917 oleh Siti Wardah
(Ny. Ahmad Dahlan). Aisiyah adalah organisasi wanita di bawah naungan
Muhammadiyah. Tujuan organisasi ini untuk meningkatkan pendidikan
keagamaan dan menanamkan rasa kebangsaan bagi kaum wanita.
g) Organisasi-Organisasi Kewanitaan Lain
Selain perkumpulan-perkumpulan wanita di atas, masih banyak lagi
organisasiorganisasi kewanitaan, misalnya Budi Wanito di Solo (1919),
Wanito Mulyo di Yogya, dan Wanita Utomo di Yogya (1921), Wanito Katholik
di Yogya (1921). Wanito Taman Siswa (1922), Wanudyo Utomo, dan Putri
Indonesia (1927).
Dalam perkembangannya sejak tahun 1920 organisasi-organisasi ke-wanitaan
tersebut mulai terlibat dalam gerakan politik. Pada tanggal 22
De-sember 1928 diadakan Kongres Perempuan I. Kongres ini diselenggarakan
di Yogyakarta, dipimpin oleh R.A. Sukanto.
Tujuan Kongres Perempuan I adalah sebagai berikut.
1) Mempersatukan cita-cita dan usaha memajukan kaum wanita.
2) Menyatukan organisasi-organisasi wanita yang beraneka ragam.
Kongres Perempuan I membicarakan masalah persatuan di kalangan wanita,
masalah wanita dalam keluarga, masalah poligami dan perceraian serta
sikap yang
harus diambil terhadap kolonialisme Belanda. Keputusan terpenting dalam kongres
tersebut adalah mendirikan gabungan perkumpulan wanita yang disebut Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI).
Pada tahun 1929 Perserikatan Perempuan Indonesia berganti nama menjadi
Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII). Kongres Perempuan I
besar pengaruhnya dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam membentuk
identitas
kebangsaan sebagai berikut.
• Kongres Perempuan I merupakan kebangkitan kesadaran nasional di
kalangan wanita. Di samping berperan penting dalam keluarga atau
masyarakat, wanita juga berperan penting dalam perjuangan mencapai
kemerdekaan bangsa dan negara.
• 2) Kongres Perempuan I membuka kesadaran kaum wanita untuk ikut
berjuang dalam bidang pendidikan dan kebudayaan, sosial, ekonomi,
politik dan lain-lain.
Dengan pentingnya peristiwa Kongres Perempuan I tersebut maka tanggal 22
Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu. Peran generasi muda maupun
perempuan di masa perjuangan sampai di zaman kemerdekaan ini sangat
penting. Mereka menjadi penggerak perubahan dan pembaharuan. Hal itu
sudah diawali dengan adanya kegiatan Kongres Pemuda 1928 maupun Kongres
Perempuan I 1928.
Rangkuman Materi
1. Di antara sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Kolonial
Belanda di Indonesia. STOVIA-lah yang merupakan sekolah dokter jawa
banyak melahirkan tokoh-tokoh yang peka terhadap keadaan rakyat pada
saat itu. Kelompok intelektual inilah yang merupakan salah satu pelopor
pergerakan nasional Indonesia.
2. Intelektualitas mereka menjadi modal berharga yang membuka cakrawala
berfikir sehingga pada gilirannya pada diri mereka timbul gagasan segar
untuk mengembangkan taktik perjuangan darigerakan yang bersifat fisik
berubah ke dalam bentuk organisasi modern, sehingga mulai saat itu
lahirlah organisasi-organisasi pergerakan nasional, yang pada dasarnya
semua bertujuan mengangkat derajat bangsa Indonesia, yang pada akhirnya
bermuara untuk mencapai Indonesia merdeka.
3. Proses terbentuknya kesadaran nasional juga diilhami oleh kebesaran
dan kejayaan dari Kerajaan Sriwijaya maupun Majapahit di masa lampau,
yang mengingatkan kembali kepada kita bahwa Indonesia sebagai suatu
bangsa telah mampu mengatur diri sendiri serta memiliki kedaulatan atas
wilayah di mana kita hidup dan bertempat tinggal.
4. Pergerakan nasional Indonesia meliputi berbagai gerakan atau aksi
yang dilakukan dalam bentuk organisasi modern menuju ke arah yang lebih
baik terutama dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kelahiran Budi
Utomo, Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia tahun 1925, Kongres
Pemuda II tahun 1928 dan kemudian diikuti kelahiran organisasiorganisasi
lain, yang semua itu merupakan keterkaitan yang tidak pernah berhenti.
Dalam perkembangannya gerakan yang terjadi tidak hanya bersifat radikal
tetapi juga bersifat moderat. Namun semua itu hanyalah taktik perjuangan
yang memiliki suatu tujuan yang sama yakni Indonesia Merdeka.
good luck..........................................................................