BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mungkin kita
sering mendengar kata munafik di dalam kehidupan sehari-hari kita. Kata munafik
atau muna mungkin kita anggap tidak begitu kasar di telinga kita karena kata
itu jarang kita dipublikasikan di media massa. Namun sebenarnya munafik adalah
suatu sifat seseorang yang sangat buruk yang bisa menyebabkan orang itu
dikucilkan dalam masyarakat.
Dan yang
kita tahu hanya munafik saja tetapi kami disini akan membahas tentang munafik
sempurna, bagaimanakah kriteria munafik sempurna tersebut, terkadang kita semua
sebagai manusia tak tau bahwa kita sering mengerjakan sesuatu yang bisa
menimbulkan kemunafikan pada diri kita, seperti bohong salah satunya. Apakah kita
termasuk tanda-tanda orang yang munafik ?
Mungkin kita dengan
tegas mengatakan kita adalah bukan orang munafik karena kurangnya pemahaman
kita mengenai apa itu sifat munafik yang sesungguhnya. Kita pasti tidak ingin
jika kita dianggap seorang yang munafik apa lagi munafik sempurna na’udzubillahi
min dzaalik, semoga kita bukan termasuk manusia yang berkriteria munafik, agar
kita faham tentang tanda-tanda orang munafik, mari kita lanjutkan
pembahasan topik ini bersama-sama.
B. Rumusan Masalah
A. Bagaimana teks
redaksi(matan) hadits tentang khishalul munafiq?
B. Bagaiamana terjemah hadits tentang khishalul munafiq?
C. Bagaimana takhrij hadits tentang khishalul munafiq tersebut?
D.
Bagaimana
asbabul wurud hadits tentang khishalul munafiq?
E.
Bagaimana
penjelasan (syarah) hadits tentang khishalul munafiq ?
F.
Bagaimana
aktualisasi hadits dengan kondisi aspek kekinian?
C. Tujuan Masalah
A. Untuk mengetahui redaksi(matan)
hadits tentang khishalul munafiq
B. Untuk mengetahui terjemah hadits tentang khishalul munafiq
C.
Untuk
mengetahui takhrij hadits tentang
khishalul munafiq
D.
Untuk
mengetahui asbabul wurud hadits tentang khishalul munafiq
E.
Untuk
mengetahui penjelasan (syarah) hadits tentang khishalul
munafiq
F.
Untuk
mengetahui aktualisasi hadits dengan kondisi aspek kekinian
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teks Redaksi
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله
عليه وسلم قَالَ: أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا
خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ
النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ،
وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَر ﴿ رواه
البخاري ومسلم ﴾
عن أبي هريرة رضي
الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلّم قال: أَيَةُ اْلمنُاَفِقِ ثَلاَثٌ : إِذَاحَدَثَ
كَذَبَ وَإِذَاوَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَااؤْتُمِنَ خَانَ ﴿رواه البخاري ومسلم﴾
B. Terjemah Hadits dan Hadits Penguat
1.
Munafik Sempurna
Artinya: Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr r. a. bahwa Nabi SAW bersabda, “Empat sifat siapa yang melakukannya menjadi munafik seratus
persen, dan siapa yang melakukan sebagian, berarti ada padanya sebagian dari
nifaq hingga meninggalkannya, yaitu: jika diamanati (dipercaya) khianat, jika
berkata-kata dusta, jika berjanji menyalahi, dan jika bertengkar curang”. (H. R.
Bukhari dan Muslim)
2.
Tiga Macam Tanda Munafik
Artinya: Diriwayatkan
dari Abu Hurairah r. a. dari Nabi SAW, bersabda: “Tanda seorang
munafik itu tiga: jika berkata-kata dusta, jika berjanji menyalahi
janji, dan jika diamanati khianat”. (H. R.
Bukhari dan Muslim)
3. Hadits
Penguat
Hadits
penguat tentang tanda-tanda munafik termasuk cukup banyak diantara redaksinya adalah
sebagai berikut:
HADIST MUSLIM NO - 88
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي
حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ
مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا
وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ
حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ
أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ سُفْيَانَ وَإِنْ
كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
HADIST ABU DAUD NO - 4068
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
مُرَّةَ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ فَهُوَ
مُنَافِقٌ خَالِصٌ وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَ فِيهِ خَلَّةٌ
مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ
وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
adapun yang
lain dapat kita peroleh dari kitab-kitab hadits berikut:
|
No. Hadist
|
Sumber
Kitab
|
Tema Indonesia
|
|
Jumlah
|
|
|
إذا خاصم فجر
|
2
|
||||
|
إثم من عاهد ثم غدر
|
|||||
|
بيان خصال المنافق
|
1
|
||||
|
الدليل على زيادة الإيمان ونقصانه
|
1
|
||||
|
ما جاء في علامة المنافق
|
1
|
||||
|
علامة المنافق
|
1
|
||||
|
مسند عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى
عنهما
|
2
|
||||
|
مسند عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى
عنهما
|
|||||
|
Total
|
8
|
||||
C.
Takhrij Hadits
JALUR SANAD KE - 1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3)
Hasil Takhrij
Sanad paling shahih yang bersumber dari ibnu Umar adalah yang disebut
Silsilah adz-Dzahab (silsilah emas), yaitu Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bin
Umar. Sedang yang paling Dhaif: Muhammad bin Abdullah bin al-Qasim dari
bapaknya, dari kakeknya, dari ibnu Umar.
Para ulama’ berusaha keras mengkomparasikan antar perawi-perawi yang maqbul
dan mengetahui sanad –sanad yang memuat drajat diterima secara maksimal kerena
perawinya terdiri dari orang –orang terkenal dengan keilmuan, kedobitan dan
keadilannya dengan yang lainnya. Mereka menilai bahwa sebagian sanad sahih
merupakan tingkat tertinggi dari pada sanad lainnya,karena memenui syarat syarat
maqbul secara maksimal dan kesempurnaan para perawinya dalam hal
kreteri-kereterianya. Mereka kemudian menyebutnya asahhul asnid. Ada perbedaan
pendapat dikalangan ulama’ mengenai hal itu. Sebagian mengatakan, ashahhul
asanid adalah:
1.
Riwayat ibn syibah az-zuhriy dari
salim ibn abdillah ibn umar dari ibn umar. Sebagian lain mengatakan, asahhul
asanid adalah riayat sulaiman al-A’masi dari Ibrahim an-nakha’iy dari ‘Al qomah
ibn Qais Abdullah ibn mas’ud.
2.
Imam bukhari dan yang lain
mengatakan, sahahhul asnid adalah riwayat imam malaik ibn anas dari nafi’ maula
ibn umar dari ibn umar. Dan karena imam asy-syafi’Iy merupakan orang yang
paling utama yang meriwayatkan dari imam malik, dan imam ahmad merupakan orang
yang paling utama yang meriwayakan dari imam syafi’iy,maka sebagian ulama’
muta’akhirin cenderung menilai bahwa ashahhul asanid adalah riwayat imam ahmad
dari imam syafi’I dari imam malik dari nafi’ dari ibn umar ra.inilah yang
disebut dengan silsilah adz- dzahab (rantai emas).
Untuk memudahkan mengetahui ashahhul asanid dan meredam
silang dikalangan ulama’ mengenai hal ini, maka abu abdillah al-hakim mamandang
perlu menghususkannya dengan sahabat tertentu atau negeri tertentu.
Hadits
ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Apabila dilihat dari sanadnya, hadits ini
termasuk hadits shahih karena dari awal sanad sampai akhir sanad, semua
sanadnya muttashil (bersambung). Sedangkan kualitas perawi dalam tiap
tingkatannya menyebutkan bahwasanya perawi itu tsiqah (terpercaya) karena sudah
memenuhi syarat yaitu dhabit (kuat hafalannya) dan adil (tidak mengerjakan dosa
kecil apalagi dosa besar).
Apabila
dilihat dari matan, hadits ini juga shahih karena tidak bertentangan dengan
Al-Qur'an dan tidak bertentangan dengan hadits. Bahkan hadits ini sejalan
dengan isi Al-Qur'an yaitu sebagai syarah (penjelasan) dari apa yang terdapat
dalam Al-Qur'an. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hadits ini adalah hadits shahih.
D.
Asbabul Wurud
Al-Khatibi menjelaskan bahwa hadits ini
ditujukan Rasulullah SAW kepada orang munafik, namun Rasulullah SAW tidak
menjelaskan kepada para sahabat nama orang yang dimaksud, akan tetapi
disebutnya "Si Fulan munafik". Hadits ini merupakan sabda Rasulullah
sebagai nasehat bagi umatnya.
Dalam riwayat Abu Awanah berbunyi yang
artinya: "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika ia berkata berlainan
dengan kejadian yang sesungguhnya, jika ia berjanji untuk kebaikan ia tidak
akan memenuhinya, jika ia diberi kepercayaan mengenai harta, rahasia atau
titipan ia kerjakan hal-hal bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah
kepadanya dan ia berkhianat kepadaNya". Ketiga tanda tersebut di khususkan
Rasulullah karena ketiganya meliputi perkataan, perbuatan dan niat yang saling
bertentangan.
E.
Penjelasan (syarah) matan Hadits
Sifat
munafik adalah penyakit berbahaya yang dapat mengancam kehidupan masyarakat.
Dalam pepatah, orang seperti ini disebut "Lain di mulut lain di
hati". Maksudnya antara kata dan perbuatannya tidak sesuai. Tanda-tanda
orang munafik ada tiga, yaitu pertama إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
yakni jika
dipercaya ia berkhianat. Kata "Khianat" berasal dari bahasa Arab yang
artinya perbuatan tidak setia. Khianat dilarang oleh Allah, sebagaiamana Firman
Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ
وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمنتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan
Rasul dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui". (Q.S. Al-Anfal: 27).
Dari ayat di atas, ada dua macam khianat:
1) Khianat terhadap Allah dan Rasulullah,
adalah berlaku maksiat atau tidak mau melaksanakan ajaran Allah dan Rasulnya
seperti shalat, puasa, dan zakat.
2) Khianat terhadap sesuatu yang
diamanatkan kepada seseorang, seperti barang titipan. Agama melarang kita untuk
berlaku khianat kepada siapapun, termasuk kepada orang yang pernah mengkhianati
kita.
Oleh karena itu, kita perlu membiasakan diri untuk
menjauhi perbuatan khianat dan sebaliknya membiasakan diri untuk berlaku
amanah. Amanah lahir dari kekuatan iman. Dengan kata lain, khianat timbul
akibat menipisnya keimanan pada diri seseorang.
Kedua, إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ yakni
jika berbicara ia berbohong. Seseorang yang terbiasa berdusta, maka sifat itu
menjadi kebiasaannya yang akhirnya ia akan celaka dan masuk neraka. Sebaliknya,
jika seseorang terbiasa berbuat/berkata yang benar, maka sifat itu juga menjadi
kebiasaan sehingga ia senantiasa berkata benar di manapun dan disenangi orang
di tengah masyarakatnya yang akhirnya masuk surga. Sebagaimana hadits Nabi SAW:[5]
قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صلى الله عليه وسلم عَلَيْكُمْ بِالصِدْقِ فَاِن الصِدْقَ يَهْدِيْ اِلَى
الْبِر. وَاِن الْبِر يَهْدِيْ اِلَى الْجنةِ. وَمَا يَزَال الرجُلُ يصدق
وَيَتَحَرى الصدقَ حَتى يكْتُبُ عِنْدَ اللهِ صَدِيْقًا. وَاِياكُمْ وَالْكذب
فَاِن الْكَذب يَهْدِيْ اِلَى اْلفُجُوْرِ وَاِن الَفُجُوْر يَهْدِيْ اِلَى النارِ
وَمَا يَزَالُ الرجُلُ يُكذب وَيَتَحَرى الْكذب حَتى يَكتب عِنْدَ اللهِ كذابًا.
Artinya: Rasulullah SAW bersabda:
"Hendaklah kamu berpegang teguh pada kebenaran, karena sesungguhnya
kebenaran membawa kepada surga. Hendaklah orang senantiasa bersifat benar dan
memilih kebenaran. Sehingga ia dicatat menjadi orang benar di sisi Allah,
jauhilah berdusta karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada durhaka, dan
durhaka itu membawa kepada neraka. Janganlah orang senantiasa berdusta dan
memilih dusta. Sehingga ia dicatat seorang pendusta di sisi Allah.
Ada beberapa langkah untuk menghindari sikap dusta atau
untuk membina kejujuran, antara lain:
1) Selalu ingat bahwa semua perbuatan selalu dilihat atau
diketahui Allah.
2) Meyakini bahwa perbuatan jujur dapat mengantarkan pada
perbuatan terhormat di dunia maupun di akhirat.
3) Yakin bahwa perbuatan jujur dapat menjaga ”hitamnya
wajah” di akhirat.
4) Membiasakan berkata benar atau apa adanya.
Ketiga, إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ atau إِذَا عَاهَدَ غَدَرَ yakni
jika berjanji ia mengingkari. Semakin sering mengingkari janji, semakin dekat
dengan kemunafikan. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan janji. Ingkar janji
merupakan antonim dari kata menepati janji. Menepati janji yakni melakukan atau
mengerjakan apa yang telah dijanjikan. Orang mengatakan ”Janji adalah hutang”,
maka dari itu janji wajib ditepati.
Secara garis besar janji ada dua macam:
1)
Janji manusia
kepada Allah. Janji manusia kepada Allah berupa kesaksian adanya Allah Yang
Maha Esa, yang diberikan saat ditiupkan ruh ke dalam jasad, ketika manusia
berada di dalam kandungan ibunya. Selain kesaksian tersebut, seorang muslim
juga telah berikrar dalam dua kalimat syahadat. Maka dari itu wajib bagi
muslimin menunaikan ikrar atau janji kepada Allah SWT, yaitu dengan menjalankan
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
2) Janji antar sesama manusia. Janji kepada manusia bisa
berupa perkataan maupun tulisan. Janji secara lisan misalnya janji seseorang
kepada temannya bahwa ia akan ke rumahnya tepat waktu. Sedangkan janji secara
tulisan, contohnya dalam bentuk surat perjanjian seperti surat perjanjian
sewa-menyewa bangunan, dan lain-lain. Namun apapun bentuknya janji wajib
ditunaikan.
Selain itu, janji terbagi kepada
dua jenis:
1) Seseorang berjanji padahal di dalam niatannya tidak ingin
menepatinya. Ini merupakan pekerti paling buruk.
2) Berjanji pada dirinya untuk menepati janji, kemudian timbul
sesuatu, lalu mengingkarinya tanpa alasan. Dalam hadits yang dikeluarkan Abu
Daud dan at-Turmudzi dari hadits Zaid bin Arqam, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Bila seorang laki-laki berjanji dan berniat menepatinya namun tidak
dapat menepatinya, maka tidak apa-apa baginya (ia tidak berdosa).”
Keempat,إِذَا خَاصَمَ فَجَر
yakni jika ia
bermusuhan ia condong kepada yang salah. Makna fujur adalah keluar dari
kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebathilan dan kebathilan menjadi kebenaran. Fujur juga merupakan meninggalkan kebenaran dan menggunakan
tipu daya untuk menolaknya. Sebenarnya karakter ini bisa dimasukkan dalam
kategori berdusta dalam berbicara. Dan inilah yang menyebabkannya
melakukan dusta sebagaimana sabda Nabi SAW: “Berhati-hatilah
terhadap kedustaan, sebab kedustaan dapat menggiring kepada ke-fujur-an dan
ke-fujur-an menggiring kepada neraka”.
Di
dalam kitab ash-Shahihain dari nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya
laki-laki yang paling dibenci Allah adalah yang paling suka berseteru dalam
kebatilan.” Dan di dalam sunan Abi Daud, dari Ibnu ‘Umar, dari nabi SAW, beliau
bersabda, “Barangsiapa yang berseteru dalam kebatilan padahal ia mengetahuinya,
maka senantiasalah ia dalam kemurkaan Allah hingga menghadapi sakaratul maut”.
F.
Aktualisasi Hadits
Hadits
di atas menjelaskan tentang materi pendidikan/pengajaran yang berhubungan
dengan moral. Dalam hal ini, moral yang dimaksud yaitu salah satu sifat tercela
yang dibenci Rasulullah yaitu munafik.
Munafik
ialah orang yang mengaku beriman, tetapi hatinya ingkar (tidak beriman). Ia mengaku
beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW serta mengaku beragama Islam, tetapi
hatinya ingkar, bahkan memusuhi Islam. Sebagaimana Firman Allah SWT:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا
بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya: Diantara manusia ada yang
berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian, padahal mereka itu
sesungguhnya tidak beriman". (Q.S. Al-Baqarah: 8)
Ali r.a. mendengar Nabi Muhammad SAW
bersabda, ''Sungguh aku tidak mengkhawatirkan seorang mukmin ataupun seorang
musyrik atas umatku. Seorang mukmin akan dipelihara Allah dengan imannya
daripada perbuatan mengganggu mereka dan seorang musyrik akan Allah patahkan
gangguannya dengan sebab kemusyrikannya dari mereka. Tapi, aku sangat
mengkhawatirkan seorang munafik yang pandai bersilat lidah, mengucapkan apa-apa
yang kamu ketahui dan mengerjakan apa yang kamu ingkari ...'' (Nahjul Balaghah:
114).
Dalam hadis tersebut, Nabi SAW
mengingatkan kepada kita tentang bahaya orang-orang munafik, yaitu orang-orang
yang bermuka dua, lahirnya kelihatan baik, tetapi hatinya ternyata jahat.
Secara lahir mereka baik, seakan-akan mereka teman kita, padahal mereka musuh
kita. Mereka juga pandai bersilat lidah, perkataannya sangat menakjubkan dan
meyakinkan, tetapi perbuatannya bertentangan dengan ucapan mereka sendiri.
Ibn Rajab berkata: “Nifaq secara bahasa merupakan jenis
penipuan, makar, menampakkan kebaikan dan memendam kebalikannya. Sedangkan secara syari’at terbagi dua:
1) Nifaq Akbar (Kemunafikan Besar),
yaitu upaya seseorang menampakkan keimanan kepada Allah SWT, para malaikat,
kitab-kitab, Rasul dan hari akhir, sebaliknya memendam lawan dari itu semua
atau sebagiannya. Inilah bentuk nifaq yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan yang dicela serta dikafirkan para pelakunya oleh Al-Qur’an. Rasulullah SAW menginformasikan bahwa pelakunya
kelak akan menempati neraka paling bawah.
2) Nifaq Ashghar (Kemunafikan
Kecil), yaitu kemunafikan dalam perbuatan.
Gambarannya, seseorang menampakkan secara teranga-terangan keshalihannya namun
menyembunyikan sifat yang berlawanan dengan itu.
Semua Nifaq Ashghar terpulang
kepada adanya perbedaan antara perkara tersembunyi (bathiniah) dan
terang-terangan (lahiriah). Al-Hasan al-Bashri RA berkata: Sekelompok Salaf berkata, “Kekhusyu’an nifaq
hanya terlihat pada kehusyu’an raga sedangkan hatinya tidak pernah khusyu’”.
Umar RA berkata: “Sesuatu yang paling
aku khawatirkan dari kalian adalah Munafiq ‘Alim (yang berpengetahuan).” Lalu
ada yang bertanya: “Bagaimana
mungkin, seorang munafik memiliki sifat ‘alim.?” Ia menjawab: “Ia berbicara dengan penuh hikmah namun melakukan kezhaliman
atau kemungkaran”.
Nifaq Ashghar merupakan sarana
melakukan Nifaq Akbar sebagaimana halnya perbuatan-perbuatan maksiat adalah
merupakan ‘kotak pos’ kekufuran.
Itulah tanda-tanda orang munafik
yang dibenci oleh Allah. Adapun tempat orang yang munafik di akhirat nanti
ditempatkan dalam neraka. Sebagaimana Firman Allah SWT:
إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ فِي الدرْكِ
اْلاَسْفَلِ مِنَ النارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang munafik itu
ditempatkan pada tempat yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali
tidak akan mendapati seorang penolong bagi mereka". (Q.S. An-Nisa':145).
Oleh karena itu, sebagai Muslim kita wajib menjauhi
sifat-sifat orang munafik tersebut, agar hidup kita selamat dunia dan akhirat.
Di antara cara untuk menjauhi sifat-sifat munafiq adalah banyak beristighfar
dan berdzikir kepada Allah melalui ibadah seperti shalat. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:
مَنْ صَلِّى للهِ أرْبَعِيْنَ يَوْمًا فِي : قالَ رسولُ اللهُ صلى اللهُ عليه وسلم:عن أنسٍ بْنِ مالِكٍ رضي اللهُ عنه قالَ جَمَاعَةِ يُدْرِكُ
التَكْبِرَةَ الأوْلىَ كَتَبَ لَهُ بَرَاءَتَيْنِ بَرَاءَةً مِنَ النَاَرِ
وَبَرَاءَةً مِنَ النَِفاقِ
Artinya: “Dari Anas ibn Malik ra. berkata, Nabi SAW. bersabda: Barang siapa melaksanakan shalat karena Allah SWT. Selama empat puluh hari dengan berjamaah tanpa tertinggal takbiratul ula (takbir pertama), maka Allah akan menulis/mewajibkan baginya dua kebebasan, yaitu bebas dari api neraka dan bebas dari kemunafikan”. (H. R. At-Turmudzi).
Artinya: “Dari Anas ibn Malik ra. berkata, Nabi SAW. bersabda: Barang siapa melaksanakan shalat karena Allah SWT. Selama empat puluh hari dengan berjamaah tanpa tertinggal takbiratul ula (takbir pertama), maka Allah akan menulis/mewajibkan baginya dua kebebasan, yaitu bebas dari api neraka dan bebas dari kemunafikan”. (H. R. At-Turmudzi).
.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Hadits
yang berisi tentang materi pendidikan/pengajaran tentang moral ini yaitu
munafik, telah banyak memberikan gambaran kepada kita, bahwasanya sifat munafik
adalah sifat tercela yang dibenci oleh Allah dan RasulNya dan juga dibenci oleh
lingkungan masyarakatnya. Diantara karakteristik orang yang diseut munafik
adalah Apabila berbicara ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika
dipercaya, ia khianat.
Apabila
salah satu karakteristik ini ada pada diri kita, hendaklah kita hilangkan
secepatnya agar kita tidak tergolong sebagai orang munafik. Karena Allah
memberikan ancaman bagi orang-orang munafik kelak di akhirat akan ditempatkan
pada tempat yang paling bawah dari neraka dan kita tidak akan mendapat
perolongan. Sedangkan di dunia, kita akan dijauhi dan tidak disenangi oleh
lingkungan masyarakat kita. Sebaliknya orang yang senantiasa berbuat/berkata
benar di manapun dia berada, maka dia akan disenangi lingkungan masyarakatnya,
dan akhirnya akan masuk surga. Oleh karena itu hendaklah kita tanamkan pada
diri kita agar senantiasa berbuat baik dan benar.
Hadits
tentang munafik ini termasuk hadits shahih karena kualitas perawi itu tsiqah
(terpercaya) yang sudah memenuhi syarat yaitu dhabit (kuat hafalannya) dan adil
(tidak mengerjakan dosa kecil apalagi dosa besar).
B.Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan ialah kita sebagai
umat manusian atau biasa di katakan sesama muslim harus saling mengingatkan.
Kami yakin bahwa makala kami ini belumlah sempurna. Oleh sebat itu kritik dan
saran dari pembaca sangatlah membantu.
DAFTAR PUSTAKA
Hasan, Moh.
Syamsi. Hadis-hadis Populer Shahih Bukhari dan Muslim. Surabaya: Amelia.
2008.
Haikal,
Ahmad. Bahaya Sifat Munafik. Jakarta: Al-Mawardi Prima. 2004.
Ad-Damsyiki,
Ibnu Hamzah Al-Husaini Al-Hanafi. Asbabul Wurud 1. Jakarta: Kalam Mulia. 1994
Al-Hasyimi,
Sayyid Ahmad. Syarah Mukhtaarrul Ahaadiits. Bandung: Sinar Baru
Agesindo. 2001.
Mansyur,
Kahar. Kitab Bulughul Maram. Jakarta: Prineka Cipta. 1992.
Fuad
‘Abdul Baqi, Muhammad. ___. Al-Lu’lu Wal Marjan Jilid 1. Surabaya: Bina ilmu.
al-Asqalany,
Ibn hajar. Fathul Baari Syarah Al-Bukhari jilid 1. Jakarta: Azzam, 2002
Software.
Maktabah Islamiyah.
Software.
Mawsu’at hadeeth.
Software.Maktabah
Shameela.
E-book:
Bukhari. Shahih Bukhari.
E-Book:
Muslim. Shahih Muslim.
Software.
Qur’anWord.

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya pada kita semua,
sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Takhrij Hadits yang berjudul Tanda-tanda Munafik.
Tidak lupa sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada
junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW atas segala keteladanan dan pengorbanan
beliau dalam mendidik umatnya menjadi makhluk yang berakhlak mulia.
Disamping itu juga, dalam pembuatan makalah ini penulis tak
lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak
Prof.Dr.KH.Ahmad Patoni,M.Ag Selaku Direktur Pascasarjana IAIN Tulungagung
2. Bapak Dr. Abad
Badruzzaman,LC.MA selaku dosen pembimbing mata kuliah Studi Hadits;
3. Semua
pihak yang telah memberikan masukan dalam penyusunan makalah ini.
Dengan keterbatasan waktu, referensi, dan kemampuan, penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis
mohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar dapat dijadikan
penulis sebagai perbaikan dalam makalah selanjutnya.
Tulungagung, 1
November 2014
Penulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar